Kethek Ogleng Diharapkan Lebih Dikenal Sebagai Budaya Asli Indonesia

oleh
Bupati Pacitan Indartato menyerahkan bantuan kostum Kethek Ogleng kepada Ketua Sanggar Condro Wanoro. (Foto: Humas Pemkab)

Pacitanku.com, NAWANGAN – Seni tari Kethek Ogleng diharapkan menjadi salah satu seni budaya asli Indonesia. Harapan itu disampaikan Ketua Sanggar Seni Kethek Ogleng “Condro Wanoro” saat berbincang dengan Pacitanku.com usai peringatan 55 tahun tari Kethek Ogleng dan lima tahun sanggar Condro Wanoro di halaman Monumen Panglima Besar Jendral Sudirman di Desa Pakisbaru, Nawangan, Minggu (19/11/2017).

Baca juga: Ratusan Penari Semarakkan Peringatan 55 Tahun Kethek Ogleng

“Harapan kami, semoga setelah ini masyarakat pacitan khususnya dan bangsa indonesia pada umumnya lebih memahami tentang seni Kethek Ogleng,”katanya.

Dia mengungkapkan kebahagiannya setelah sejak 55 tahun berdiri, Kethek Ogleng dapat menampilkan tari kolosal yang diikuti sebanyak 125 penari. Para penari tersebut adalah para siswa dari sekolah yang ada di Kecamatan Nawangan.

“Rencana dan kami siapkan 150 penari, tapi hanya bisa temukan kostum Ogleng 75 dan pemeran lainya 50, sehingga jumlah semua 125 penari. Dan alhamdulillah kami mendapat kejutan bantuan seragam dari Pemda total 40 beserta dan sound system,”jelasnya.

Lebih lanjut, pria yang juga menantu pendiri Kethek Ogleng tersebut mengatakan bahwa dirinya bersyukur dan berbahagia ats dua hal, yakni suksesnya tari kolosal dan apresiasi yang baik dari Pemerintah Kabupaten Pacitan.

Baca juga: Pemkab Dukung Tari Kethek Ogleng Jadi Event Wisata Budaya Pacitan

“Menurut saya ini suatu anugrah dari Alloh SWT mengabulkan dan meridhoi perjuangan pelestarian budaya lokal yang bermartabat dan bermanfaat, bantuan dari Pemkab tadi langsung di serah terimakan seusai Bapak Bupati sampaikan ucapan selamat ulang tahun seni Kethek Ogleng ke 55 dan 5 tahun sanggar Condro Wanoro juga sambutan apresiasi,”kata Sukisno.

“Selanjutnya beliau meminta kepada jajaran pemerintah wilayah kecamatan Nawangan agar momen ini di jadikan kegiatan rutin tahunan dan lebih dikemas secara positif sehingga bisa mengundang Bupati tetangga untuk hadir,”pungkasnya.

Bupati Pacitan Indartato mengatakan bahwa pementasan tari yang satu ini menjadi agenda tetap setiap tahun. Dia berharap, tentunya dengan lebih meriah bertepatan dengan hari ulang tahun sanggar. Tidak hanya melibatkan warga lokal. Namun juga wilayah-wilayah sekitar Kabupaten Pacitan.

Para penari Kethek Ogleng saat tampil dalam peringatan 55 tahun tari Kethek Ogleng. (Dok. Sanggar Condro Wanoro)

“Tari Kethek Ogleng merupakan seni budaya asli Pacitan, masyarakat Pacitan harus punya rasa memimiliki, harus kita jaga dan lestarikan, Pemerintah daerah akan berupaya sebisa mungkin membantu untuk mendukungnya menjadi salah satu even wisata budaya,” jelas dia.

Ratusan penari Kethek Ogleng menggelar pertunjukan kolosal dalam rangkaian peringatan 55 tahun tari Kethek Ogleng. Ini merupakan kali pertama tarian asli dari Desa Tokawi dipertunjukkan secara kolosal. 

Ratusan penari yang merupakan para pelajar dari berbagai sekolah di Kecamatan Nawangan tersebut menunjukkan atraksi yang memukai para pengunjung di Monumen Panglima Besar Jendral Soedirman, Bukit Gandrung, Desa Pakisbaru, kecamatan Nawangan.

Ditengah cuaca yang sejuk, para kethek ogleng nampak lincah dan terlihat lucu saat memainkan atraksi, dari yang jalan, atraksi koprol hingga membentu koreografi. Sementara pemeran Roro Tompe juga tak kalah menarik dan menawan saat menampilkan atraksinya. (RAPP002)