Kementerian ESDM Sebut Pacitan Rawan Bencana Tanah Gerak

oleh -Dibaca 2.195 kali
Tanah Amblas (Foto : Doc.info Pacitan)
Tanah Amblas (Foto : Doc.info Pacitan)
Tanah Amblas (Foto : Doc.info Pacitan)
Tanah Amblas (Foto : Doc.info Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Pakar dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral sudah menyerahkan hasil pemetaan tanah gerak di Kabupaten Pacitan. Hasil pemetaan PVMBG menunjukkan banyak daerah kuning dan merah di Pacitan.

“Kami sudah menyerahkan peta zona rentan gerakan tanah di Kabupaten Pacitan ke BPBD. Dari peta zona itu, kondisi di Pacitan lebih banyak zona kuning dan merahnya,” kata Ketua Tim PVMBG, Herry Purnomo, Kamis (12/1/2017) di Pacitan, dilansir Kompas.

Menurut Herry, zona merah menunjukkan intensitas pergerakan tanah lebih tinggi dan makin intensif, terutama saat musim hujan. Kondisi itu terjadi karena di Pacitan banyak lereng curam dan sifat fisik tanah yang rentan lapuk.

Baca juga: Ini Titik Rawan Bencana Tanah Gerak di Pacitan

Tak hanya itu, kata Herry, tata lahan dan curah hujan tinggi juga memicu pergerakan tanah. Masyarakat yang tinggal di zona merah diimbau waspada saat musim hujan tiba. Pemerintah daerah harus segera memberikan saran teknis dan sosialisasi tentang bencana tanah longsor dan mitigasinya.





Sebagaimana diketahui, bencana tanah gerak di Pacitan cukup sering terjadi. Titik yang paling parah adalah jalur utama Pacitan-Ponorogo di Dusun Dondong, Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo. Akibat tanah gerak di jalur tersebut, rumah warga terdampak serta jalan utama terancam putus.

Salah satu yang sering menimpa Pacitan adalah bencana tanah ambles atau tanah retak yang sering terjadi. Berdasarkan catatan Pacitanku.com sejak tahun 2014, setidaknya ada delapan titik rawan bencana tanah ambles di Pacitan yang harus di waspadai.

Dari hasil kajian Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Pacitan, pemicu terjadinya tanah gerak/ambles di Pacitan ternyata paling besar didominasi faktor aktivitas manusia. Persentasenya sekitar 87,29 persen. Selanjutnya faktor lain karena dipicu oleh faktor kondisi hidrologi lereng sekitar 4,23 persen. Selanjutnya, faktor kelerengan sekitar 1,51 persen, faktor geologi sekitar 6,34 persen, faktor curah hujan serta guncangan gempa. (RAPP002)