Kisah Mbah Umar Tumbu Pacitan Saat Berhadapan dengan PKI Madiun

Kiai Said Aqil Siradj saat bertemu Mbah Umar Tumbu, beberapa waktu lalu. (Foto: NU Online)

Pacitanku.com, PACITAN – KH Umar Syahid atau yang dikenal dengan panggilan Mbah Tumbu adalah salah satu saksi yang turut berjuang bersama para ulama saat pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965. Khusus pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, Mbah Umar Tumbu mempunyai kisah tersendiri kala berhadapan dengan pemberontakan tersebut.

Mbah Umar Tumbu termasuk kiai tertua di Indonesia yaitu berusia 132 tahun. Usia tersebut diakuinya sendiri ketika Mun’im dan kawan-kawan menjenguknya di Pacitan. Mbah Tumbu wafat pada Rabu (4/1) pukul 22.55 WIB di RSUD Pacitan.

Kisah tersebut diceritakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahldatul Ulama (PBNU) KH Abdul Mun’im DZ saat menjenguk Mbah Tumbu beberapa hari sebelum wafat.“Saat peristiwa pemberontakan oleh PKI 1948 di Madiun, beliau sedang jualan di sana dan menyaksikan langsung pembantaian para ulama,” katanya, dilansir laman NU Online.

Berjualan tersebut ternyata adalah salah satu cara agar Mbah Umar selamat karena dikira orang biasa. Posisi Mbah Umar menjadi informan para ulama di Madiun. “Dari aktivitas berjualan itulah, dia menjadi informan bagi para kiai untuk menghadapi PKI. Sebab dia bisa berjalan ke mana saja tanpa dicurigai PKI,” ujarnya.

Kala itu, dikisahkan oleh sejarawan bernama Agus Sunyoto bahwa pada 18 September 1948 sebanyak 1500 orang FDR/PKI menguasai tempat-tempat strategis di Madiun. Keberhasilan FDR/PKI menguasai Madiun disusul terjadinya aksi penjarahan dan penangkapan sewenang-wenang. Semua pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap atau dibunuh. Mereka menembak atau menyembelih orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan.


Serangan mendadak yang sama pada pagi hari tanggal 18 September 1948 itu dilakukan oleh pasukan FDR/PKI di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang dan Cepu. PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintah, tapi juga penduduk, terutama ulama-ulama ortodoks, santri ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang. 

Masjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu madrasahnya dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan. Setelah itu, rumah pemeluk Islam dirampok dan dirusak. Dan Mbah Umar Tumbu menjadi salah satu saksi kebiadaban PKI di Madiun tahun 1948 tersebut.

Kepergian Mbah Umar Tumbu takpelak membuat keluarga besar Pengurus Cabang NU Pacitan berduka. Ketua PCNU Pacitan, KH Mahmud di Pacitan, Kamis menyatakan KH Umar Syahid telah dirundung penyakit dalam dan penurunan kesadaran akibat usia lanjut.

Menurut KH Mahmud, tidak hanya umat muslim Pacitan yang berduka, kalangan nahdliyin dari berbagai daerah di Jatim, Jateng maupun daerah-daerah lain ikut kehilangan sosok kiai sepuh yang kharismatik dan disegani di tanah Jawa tersebut.

“Beliau termasuk waliulloh di Jawa. Kiai-kiai lain di tanah Jawa seperti Habib Luthfi dari Pekalongan hormat sama almarhum. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan kiai-kiai yang datang ke Pacitan selalu silaturahmi ke kediaman Mbah Umar,” tuturmnya.

Ia mengaku senantiasa mendampingi almarhum selama proses perawatan di rumah sakit hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di tempat asalnya di daerah Donorojo, Pacitan. “Sebelum wafat, beliau sempat berwasiat agar kami benar-benar menjaga nama baik NU serta mempererat persatuan dan kesatuan,” ujarnya.

Selain juga menjaga keselamatan keluarga masing-masing, kata Mahmud, almarhum juga berulang kali mengingatkan tokoh-tokoh nahdliyin yang membezuk dan menungguinya selama sakit agar menggiatkan kegiatan dakwah “Li-i’lai kalimatillah”, yakni berdakwah yang dengan selalu mengagungkan nama Allah. “Pesan terakhir itu selalu diucapkan dengan nada cukup jelas,” ujarnya.

Sosok almarhum KH. Umar Syahid atau Mbah Umar Tumbu memang merupakan ulama sepuh yang sangat dihormati di kalangan warga NU, utamanya di Pacitan dan Jawa Timur. Beberapa ulama yang pernah silaturahmi ke kediaman almarhum Mbah Umar mengaku terkesan dengan jamuan makan nasi dan lauk pauk yang selalu disediakan keluarga.


Kendati disegani oleh tokoh beraneka aliran, KH Umar Syahid tetap bersahaja. Ia juga dikenal tidak pernah tergiur mendapat aliran bantuan, namun justru mewakafkan tanah di pesantrennya ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pacitan guna didirikan sekolah. KH Umar Syahid merupakan santri sepuh dan teman satu kelas almarhim KH. Hamid Pasuruan di Pondok Pesantren, Tremas, Pacitan.

Mbah Umar Tumbu dimakamkan kemarin di pemakaman keluarga Ponpes Nur Rohman. Puluhan ribu pentakziyah datang dari berbagai daerah. Bahkan, jalur menuju rumah duka dari jalan raya Pacitan-Wonogiri macet sepanjang dua kilometer. Jalan yang lebarnya tiga meter dijejali masyarakat baik yang berjalan kaki maupun menggunakan sepeda motor, mobil, dan bus.

Ucapan belasungkawa juga datang dari Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, dan politisi Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono. Berbagai kontribusi diberikan Umar Tumbu kepada Pacitan. Di antaranya mendirikan ponpes Nur Rohman, di Donorojo tahun 1993. Dia juga mewakafkan tanah dan gedung untuk Nadhlatul Ulama. Disamping itu, Umar Tumbu juga menghibahkan tanah beserta bangunan untuk SMKN 1 Donorojo.

KH Umar Syahid Mbah Umar Tumbu

Posting Terkait