Kala Kakek 78 Tahun Asal Pacitan Ngonthel Nonton Banyuwangi Tour de Ijen

oleh -131.192 views

Pacitanku.com, BANYUWANGI – Seorang kakek berambut putih duduk seorang diri di trotoar di jalur finis International Tour de Banyuwangi Ijen yang berada di Taman Blambangan, Rabu (11/5/2016).Sepatu warna hitam kusam diletakkan di sampingnya. Sesekali, dia mengusap keringat di dahinya.

Ajang Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2016 menjadi magnet bagi kakek dengan nama Aris Widodo (76) warga Pacitan tersebut. Diusianya yang tak muda lagi, pria ini rela ngontel dengan sepeda gunungnya dari Pacitan menuju Banyuwangi demi melihat ITdBI 2016.

Aris mengaku mengetahui digelarnya ITdBI 2016 dari pemberitaan di media. Makanya, jauh-jauh hari dirinya menyiapkan diri untuk hadir dan melihat langsung gelaran balap sepeda internasional. Selama seminggu pria ini mengayuh sepeda butut-nya tanpa lelah.”Saya seminggu naik ini (sepeda gunung). Saya ngontel sepeda ini sejak tanggal 5 Mei kemarin. Dari rumah sampai Banyuwangi,” ujar Aris.

Selama perjalanan, kata Aris, banyak kendala yang dihadapi. Mulai ban sepeda bocor yang menyebabkan dirinya harus berjalan puluhan kilometer, hujan dan teriknya matahari hingga menginap di koramil dan pom bensin dilakukan Aris untuk menuju Banyuwangi.

Bahkan, sempat juga Aris kehabisan bekal makan minum. Namun banyak orang yang membantu. Aris mengaku hanya melakukan perjalanan pagi hingga sore hari. Sementara, malam hari dipergunakan untuk istirahat.  “Kena hujan 2 kali. Kalau nginep biasanya di Koramil dan pom bensin. Ya capek tapi asyik dan saya menikmati perjalanan ini,” ujar pria warga Desa/Kecamatan Arjosari, Pacitan ini.


Dengan sepeda gunung buatan tahun 1993 ini, Aris mengaku sudah berkeliling di beberapa daerah dan negara tetangga. Antara lain Malaysia dan Singapura. Dia menceritakan jika lebih nyaman bersepeda di dua negara tersebut. Karena pengendara disana lebih menghargai pesepeda.

ITDB-800x445Aktivitas bersepeda yang dilakukan Aris, tak jarang menjadi pertanyaan besar bagi orang lain. Tak jarang banyak orang lain mengolok-ngolok pria dua anak ini orang gila. “Banyak yang mengatain saya gila. Tetangga juga sempat ngatain gila. Wong namanya hobi kok dibatasi. Saya suka bersepeda sejak usia 9 tahun. Mending naik sepeda daripada motor dan mobil. Ada sih dirumah, tapi biar anak dan istri saya saja yang pakai, saya cukup sepeda ini saja,” jabarnya.

Sementara itu, sepeda yang digunakannya masih sama dengan sepeda yang sekarang dipakainya, yaitu sepeda buatan 1993 yang diberikan kepada dia secara gratis oleh temannya. “Saat keliling pakai sepeda saya pernah tiga tahun tidak pulang. Tapi ini yang tidak boleh saya lupa bawa. Bendera merah putih,” katanya sambil menunjukkan bendera merah putih yang diikat di bagian belakang sepeda.

Saat ditanya alasannya memilih berkeliling menggunakan sepeda, Arif mengaku bahwa hidup hanya sekali dan ia ingin belajar mengetahui banyak hal. “Tidak baik kalau hanya di rumah dan yang ditahu hanya itu itu saja. Harus membuka wawasan ya salah satunya adalah sepedaan sampai keluar negeri. Keliling Indonesia dan banyak yang bisa dipelajari,” kata lelaki yang mengaku hanya lulus sampai kelas tiga SD tersebut.

Ingin ikut balapan

Pada event sepeda balap yang diselenggarakan Kabupaten Banyuwangi tersebut, Arif sebenarnya menyimpan harap ingin mencoba rute yang juga dilewati oleh para pebalap asing.“Saya pengin sekali ikut balapan sama mereka walaupun saya di belakang mereka,” ucapnya.

Selama di Banyuwangi, pria yang sehari-hari membuka warung kecil di rumahnya mengaku bisa tidur di mana saja. “Sebenarnya saya punya teman di Banyuwangi tapi saya cari alamatnya enggak ketemu. Untuk malam ini juga masih belum tahu mau menginap dimana,” ucapnya.

Rencananya, hari ini dia akan ke Kecamatan Genteng yang berjarak sekitar 30 kiolometer dari kota Banyuwangi agar bisa mengikuti balap sepeda di etape kedua. “Hari ini saya cuma bisa lihat di finis karena belum tahu rutenya mana. Katanya besok start-nya di Genteng dan setelah ini saya akan bersepeda ke sana. Saya tidak mau ketinggalan,” pungkasnya.

Mengenai gelaran ITdBI 2016, dirinya mengaku takjub dengan event ini. Sebab tidak banyak daerah yang menggelar even balap sepeda. Apalagi ITdBI mengkombinasi olahraga dengan wisata di daerah. Dirinya berharap kegiatan seperti ini bisa dicontoh daerah lain khususnya Pacitan. “Ditempat saya juga banyak tempat wisata. Alangkah indahnya jika daerah saya bisa membuat acara seperti ini,” harap kakek 4 cucu ini.


Sebagaimana diketahui, mulai Rabu (11/5/2016) kemarin digelar etape pertama Internasional Tour de Banyuwangi Ijen 2016. Etape ini menempuh rute sejauh 171,4 KM dengan mengambil start di Waduk Sidodadi, Glenmore dan Finish di RTH Taman Blambangan.

Balap sepeda ITdBI telah menjadi aganda rutin Union Cycliste Internationale (UCI). ITdBI telah mendapatkan peringkat “excelent” dari UCI yang menjadikan ITdBI asik sebagai tujuh kejuaraan balap sepeda terbaik di Asia dan menjadi yang terbaik di Indonesia. ITdBI 2016 digelar mulai 11-14 Mei 2016 dengan empat etape sepanjang 567 kilometer. (DPPP001)