Menikmati Panorama Negeri Sejuta Ombak

oleh -132.387 views
Pantai Klayar dari atas tebing. (Foto: Arif Sasono)
Pantai Klayar dari atas tebing. (Foto: Arif Sasono)

Pacitanku.com, PACITAN – Indonesia adalah negeri bahari, dan salah satu yang sangat mendukung hal tersebut adalah banyaknya wilayah di Indonesia yang memiliki pesona bahari yang memanjakan mata, salah satunya adalah Kabupaten Pacitan. Kabupaten yang merupakan kampung halaman Presiden Republik Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini memiliki pesona bahari yang luar biasa indah.

Dengan panjang garis pantai 70.709 km, Pacitan bisa disebut sebagai negeri sejuta ombak. Dengan garis pantai yang cukup panjang, berdasarkan penelusuran penlus, setidaknya ada 68 pantai yang melalui di tujuh wilayah kecamatan, yakni Sudimoro, Ngadirojo, Tulakan, Kebonagung, Pacitan, Pringkuku, dan Donorojo.

Sebagai informasi, wilayah pesisir Kabupaten Pacitan berbatasan langsung dengan pantai selatan Pulau Jawa, dengan karakteristik gelombang yang cukup besar rata-rata melebihi 1.5 m di tepi pantai. Sementara karakteristik pantainya berpasir dari yang landai sampai curam. Dengan kondisi demikian, 68 pantai di Pacitan menyajikan ciri khas tersendiri yang semakin membuka mata kita bahwa Indonesia adalah negeri bahari yang indah.

Pantai Srau Dijadikan Tempat Gathering MOTO AE. (Foto : Doc.Pacitanku)
Negeri Sejuta Ombak, Pantai Srau.

Dari ujung barat hingga ujung timur Pacitan, tersebar 68 pantai yang memiliki keindahan yang tak akan pernah terlupakan. Sebanyak 68 pantai tersebut terbagi dalam tiga zona di Pacitan, yakni zona Pacitan bagian barat, tengah dan timur.


Di wilayah bagian barat, ada Pantai Nampu, Pantai Kijingan, Pantai Ngandul, Pantai Buyutan, Pantai Banyutibo, Pantai Klayar, Pantai Karangbolong, Pantai Piser, Pantai Ngobyogan dan Pantai Ngiroboyo (Kecamatan Donorojo). Kemudian Pantai Watukarung, Pantai Sirah Towo, Pantai Ngalian, Pantai Srau, Pantai Blosok, Pantai Bergah, Pantai Patuk (Ngandan), Pantai Mbercak, Pantai Kasap, Pantai Denombo/Wedi Ombo, Pantai Nampu, Pantai Sruni, Pantai Tuguragung dan Pantai Waduk (Kecamatan Pringkuku).

Untuk wilayah tengah, ada Pantai Tamperan, Pantai Teleng Ria dan Pantai Pancer (Kecamatan Pacitan). Sementara untuk bagian timur ada Pantai Gelon, Pantai Ombak Tarung, Pantai Ngambur, Pantai Wetren, Pantai Bakung, Pantai Ngoyan, Pantai Blubuk, Pantai Song Banjar, Pantai Prikisan, Pantai Padi Dangkal, Pantai Pikatan, Pantai Tawangsari, Pantai Sangklehan, Pantai Pangasan, Pantai Ganjuran. Kemudian Pantai Srengit, Pantai Klesem, Pantai Kaliuluh, Pantai Wawaran, Pantai Tamengan dan Pantai Ngantakulung (Kecamatan Kebonagung).

Putri Samudera Pantai Watukarung. (Foto: Arif Sasono)
Putri Samudera Pantai Watukarung. (Foto: Arif Sasono)

Sementara, di Kecamatan Tulakan ada Pantai Pidakan, Pantai Watu Bale, Pantai Kuncir, Pantai Babakan, Pantai Ngenesan, Pantai Kowang, Pantai Karangbolong. Sedangkan di Kecamatan Ngadirojo ada Pantai Segoro Anakan/Tawang, Pantai Siwil, Pantai Soge, Pantai Taman, Pantai Puring dan Pantai Breman. Untuk di wilayah timur, masih ada Kecamatan Sudimoro yang terdiri dari Pantai Tinawu, Pantai Kunir, Pantai Gondang, Pantai Daki, Pantai Wawaran Ngobyok, Pantai Bawur dan Pantai Kondang.

Sebanyak 68 pantai tersebut memiliki karakteristik yang menunjukkan keindahan dan keelokan panoramanya. Selain keindahan alamnya, ada banyak inspirasi dari pantai di Pacitan, karena menghasilkan kearifan lokal dan kekayaan laut yang sangat bermanfaat untuk menyejahterakan masyarakat Pacitan.

Lembayung Senja dan Seruling Samudera

Sunset Pantai Buyutan (Foto :Reninurhida)
Negeri Sejuta Ombak, Sunset Pantai Buyutan (Foto :Reninurhida)

Membincangkan pantai-pantai di Pacitan, salah satu yang cukup fenomenal adalah kebaradaan Pantai Klayar, yang terletak di Dusun Kendal, Desa Sendang, Kecamatan Donorojo. Pantai Klayar memiliki ciri khas dan juga pesona keindahan yang akan memanjakan mata Anda. Berada di Pantai ini, Anda bisa jadi akan seperti merasa berada di salah satu titik dari luasnya hamparan surga.

Negeri Sejuta Ombak, Sphinx van Java.Pantai Klayar memiliki berjuta fenomena, dari ujung barat sampai ujung timur, diantaranya adalah ocean fluid atau seruling samudera, Sphinx van Java, panorama pasir putih, hingga deburan ombak khas laut selatan. Berada di area seruling samudera, Anda akan menemukan keajaiban alam, dimana semburan air yang muncul dari sela-sela batu karang menimbulkan sensasi dan jika beruntung, Anda akan mendengarkan seperti bunyi seruling. Hal itulah yang kemudian area yang terletak di ujung timur ini disebut dengan area seruling samudera.

Tak jauh dari lokasi seruling samudera, Anda bisa mendapatkan sensasi lain yang tak kalah indahnya. Area ini berbentuk batu karang atau kars raksasa yang menyerupai patung Sphinx di Mesir. Area yang kemudian disebut dengan Sphinx van Java ini adalah spot terbaik untuk mengabadikan gambar bersama orang-orang tercinta. Jika beruntung, Anda aka mendapatkan perpaduan latar belakang karang Sphinx dengan ombak yang warnanya mirip dengan langit yang biru.

Pemandangan Watu Narada di pantai Buyutan yang elok. (Foto: Arif Sasono)
Pemandangan Watu Narada di pantai Buyutan yang elok. (Foto: Arif Sasono)

Selain berbagai pesona khas tersebut, saat sore hari, saat dimana lembayung senja datang, pantai-pantai di Pacitan adalah tempat terbaik untuk menikmatinya. Ada beberapa pantai khusus yang jika kita melihat lembayung senja atau sunset atau mentari terbenam bisa kita saksikan dengan begitu indah, diantaranya adalah Pantai Klayar, Pantai Buyutan dan Pantai Srau.

Di Pantai Klayar, panorama lembayung senja ini begitu memikat siapapun yang melihatnya. Saat dengan jelas kita bisa menyaksikan sang mentari tenggelam, langit berubah warna menjadi jingga, dan memerah, dan pada akhirnya tenggelam. Demikian halnya dengan Pantai Buyutan dan Pantai Srau, dimana kita bisa melihat keelokan panorama lembayung senja yang begitu indah.

Di Pantai Buyutan, yang terletak di Desa Widoro, Kecamatan Donorojo, Anda akan menyaksikan panorma lembayung senja yang berbeda dari biasanya. Disini, dibalik batu karang yang disebut sebagai batu Narada, mata Anda akan dimanjakan dengan panorama lembayung senja yang tidak pernah terlupakan. Pemandangan lembayung senja inilah yang seringkali diabadikan para wisatawan dengan membuat gambar siluet senja.

Kearifan Lokal Bernama Tradisi Eretan dan Laut yang Kaya

Eret Pacitan (Foto : Doc Info Pacitan)Banyaknya titik Pantai di Pacitan membuat masyarakat setempat memanfaatkan kekayaan laut untuk kesejahteraan, yakni dengan menjadi nelayan sebagai profesi unggulan di daerah pesisir Pacitan. Sehingga bisa dipastikan banyak potensi unggulan di bidang kemaritiman yang bisa dikembangkan, selain pariwisata, yakni potensi perikanan.

Nah, saat ini yang paling banyak digemari untuk diolah menjadi produki di bidang perikanan adalah ikan tuna. Olahan ikan tuna Pacitan kini dapat dijadikan beragam varian kuliner yang mampu menghasilkan omset mencapai ratusan juta hingga milyaran rupiah. Setidaknya hal tersebut yang dilakukan oleh para pengusaha tahu tuna Pacitan, yang hanya berbekal bisnis kuliner khas Pacitan ini, mereka bisa meraup untung besar.

ikan tuna langka
Olahan ikan tuna.

Beberapa pengembang industri olahan tuna di Pacitan saat ini sudah menjamur, terutama di kawasan pantai Teleng Ria. Hal itu juga yang dialami oleh pengelola Tahu Tuna Eza Mandiri, Pak Ran dan istrinya, Sri Sumiati. Berbekal ketekunannya mengelola olahan tuna, berupa tahu, otak – otak hingga nugget, omzet yang dicapai keluarga ini milyaran rupiah.

Selain itu, tradisi dan kearifan budaya lokal sangat melekat dalam keseharian masyarakat pesisir Pacitan. Cara mencari ikan pun bagi sebagian warga pesisir Pacitan digelar dengan memanfaatkan kearifan budaya lokal. Seperti yang dilakukan para nelayan di Desa Worawari, Kecamatan Kebonagung saat memanen ikan di Pantai Dangkal.

Para nelayan disini menyebutnya  budaya eret. Warga yang tergabung dalam serikat nelayan Kebonagung menyelenggarakan tradisi eret atau eretan. Eret adalah mencari ikan dengan metode jaring panjang yang dipasang melingkari teluk. Kedua ujung jaring ada di daratan dan kemudian ditarik bersama untuk menggiring ikan kearah pesisir. Ikan yang berhasil digiring nantinya akan terperangkap ke dalam jaring panjang tersebut, atau menangkap ikan jaring keruk.

Filosofi yang muncul dalam tradisi eret ini adalah Eretan Ngupaya Mina, yang merupakan kalimat bahasa Jawa dengan makna saling bergandengan mencari ikan. Nilai yang mungkin sulit didapat dalam zaman yang serba pragmatis dan mementingkan kepentingan sendiri.


Tradisi ini dimulai ketika 10 pria berbaris di bibir pantai membelakangi hamparan pasir Laut Pantai Dangkal. Salah satu sesespuh di komunitas tersebut membacakan kata dan kalimat dengan intinya adalah terkait  sedekah bumi yang berwujud  ayam dimasak bumbu lengkap dengan nasi dan lauk. Sajian itu ditata sedemikian rupa dan ditata di atas hamparan pasir.

Penari Lokal turu memeriahkan eret (Foto : Doc. Info Pacitan)
Penari Lokal turu memeriahkan eret (Foto : Doc. Info Pacitan)

Sajian tersebut lantas dibacakan doa. Pembacaan dipimpin tokoh agama desa setempat. Ratusan hadirin yang berdiri di segenap penjuru pantai pun ikut berdoa. Lalu setelah doa selesai, 10 pria memulai tugas. Dengan langkah serentak, mereka maju ke arah kepala desa. Lalu, satu per satu tangannya bergantian menjabat kepala desa dan kyai.

Kemudian, 10 pria yang mengenakan pakaian ala kadarnya berbalik arah dan beramai-ramai mendorong 2 perahu yang tertambat di tepi pantai. Setelah perahu mengapung, 4 pria menaiki 2 perahu. Sedangkan 6 lainnya menunggu di pesisir. Perlahan perahu tersebut bergerak menjauhi pantai.

Beberapa waktu kemudian, kedua perahu bergerak kembali ke pinggir. Lajunya tak terlalu kencang. Tujuannya untuk menjaga agar jaring yang ujungnya tertambat di kedua ujungnya tidak putus. Dengan jarak kurang lebih lima meter dari pantai, puluhan warga lain yang sejak tadi menunggu berhamburan menuju kedua ujung tali jaring yang tertambat di dua perahu untuk menarik  jaring penuh aneka jenis ikan.

Setelah sukses menarik ikan, dan ikan terkumpul, barulah nelayan pemilik perahu dan jaring membaginya. Semua mendapat bagian sesuai perannya. Baik para pria pendorong perahu maupun warga yang suka rela memantu menarik tali jaring, semua membawa ikan. Dan sambil membawa ikan dengan berbagai jenis, para warga tersebut kembali menuju tempat semula. Agenda akhir dari tradisi eretan adalah memakan dan menikmati nasi dan ayam ingkung yang sudah disajikan sebelum acara dimulai. Budaya eret yang rutin digelar di Pantai Dangkal Worawari, Kebonagung rutin digelar setiap tahun.

Menari di Atas Negeri Sejuta Ombak

Turis sedang surfing di Pancer Door (Foto : http://adventrave.blogspot.com)
Turis sedang surfing di Pancer Door (Foto : http://adventrave.blogspot.com)

Seperti halnya pantai selatan lainnya, salah satu yang menjadi keunggulan dari wisata bahari di Pacitan adalah ombaknya yang cocok untuk olahraga air selancar atau surfing. Setidaknya, ada tiga pantai di Pacitan yang sering digunakan untuk selancar atau surfing, yakni Pantai Watukarung, Pantai Srau dan Pantai Pancer.

Pantai Watukarung misalnya, waktu tempuh sekitar 45 menit untuk sampai ke destinasi pantai ini dari pusat Kota Pacitan, yakni di Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku. Kepopuleran Pantai Watukarung sendiri semakin dikenal setelah peselancar kelas dunia macam jawara dunia Bruce Irons tertarik mencoba berselancar di pantai ini. Foto-foto Bruce saat berselancar di Watukarung bahkan menjadi sampul utama majalah internasional terkemuka “Waves”.

Dengan tipe reef break dan dasar laut berupa batu karang, pada saat-saat tertentu Pantai Watukarung bisa menghasilkan barrel yang akan membuat surfer serasa berada di surga. Baik surfer maupun natural bisa berselancar di sini karena Pantai Watu Karung memiliki ombak kanan dan kiri. Tempat ini juga belum terlalu ramai, sehingga surfer bisa mengejar ombak dengan leluasa. Banyak para surfer kelas dunia maupun para surfer pemula memanfaatkan ombak watu karung sebagai sarana latihan kegemaran olahraga surfing mereka.

Surfing di Pantai Watukarung
Surfing di Pantai Watukarung

Selain pantai Watukarung, Pantai Pancer yang terletak di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pacitan ini juga menjadi perhatian wisatawan dunia, terutama para pelancong asing yang memiliki hobi olahraga surfng. Bentang pantai yang luas serta pola ombak yang besar dan panjang di kedua destinasi wisata pantai ini sangat disukai para peselancar.

Sebegitu menantangnya gulungan ombak yang menyerupai pipa itu, sejumlah turis Eropa dan Australia menyebutnya dengan istilah the next Bali in Pacitan. Jumlah wisatawan memang belum sebanyak di Bali, bahkan jauh. Tetapi keberadaan para wisatawan asing dari berbagai negara yang asyik bermain selancar, dan sebagian duduk menunggu di tepi pantai itu, sudah cukup berhasil menciptakan aroma Bali di Pacitan.

Mereka bahkan dengan santainya hilir-mudik menggunakan sepeda motor-sepeda motor sambil membawa papan selancar yang ditaruh di bagian belakang. Lebih menarik, wisata selancar juga sudah tidak asing bagi masyarakat lokal. Belasan remaja lokal yang berkulit sawo matang juga tak segan untuk masuk ke tepi laut dan mulai menembus gulungan ombak dengan posisi merebah di atas papan selancar dan mendayungnya ke tengah menggunakan kedua tangan.

Demikianlah, ragam pesona wisata bahari dari negeri sejuta ombak menjadikan Pacitan adalah salah satu dari ribuan daerah di Indonesia yang mulai menggarap sektor pariwisata menjadi sektor potensial. Pacitan adalah salah satu negeri sejuta ombak yang dimiliki Indonesia, dan menjadi salah satu tempat terbaik untuk menikmati sepetak tanah surga dari selatan. (DP)