Dilema Nelayan Pacitan, BBM Naik, Harga Jual Ikan Turun Drastis

oleh -Dibaca 1.327 kali
Kapal nelayan dan jala penangkap ikan mangkrak di Pantai Tamperan. (Foto : Dok.Pacitanku)
Kapal nelayan dan jala penangkap ikan mangkrak di Pantai Tamperan. (Foto : Dok.Pacitanku)
Kapal nelayan dan jala penangkap ikan mangkrak di Pantai Tamperan. (Foto : Dok.Pacitanku)
Kapal nelayan dan jala penangkap ikan mangkrak di Pantai Tamperan. (Foto : Dok.Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN—Akibat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) solar yang merangkak naik, sejumlah 600 nelayan andon atau nelayan pendatang di wilayah perairan Kabupaten Pacitan berhenti melaut.

Para nelayan tersebut, mayoritas di antara mereka memilih pulang ke daerah asalnya. “Ada yang balik ke Sinjai, Sulawesi Selatan, dan ke Pekalongan, Jawa Tengah,” kata Ketua II Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Pacitan Hartono, seperti dilansir laman Tempo, Kamis (27/11/2014).

Dikatakan Hartono, para nelayan tersebut berhenti melaut karena anggaran operasional lebih tinggi dibanding harga jual ikan. Untuk kapal jenis sekoci, misalnya, uang yang harus dikeluarkan mencapai Rp 7 juta buat membeli 600 liter solar, bekal kebutuhan pokok, dan es batu untuk mengawetkan ikan. Sedangkan hasil penjualan ikan tidak lebih dari biaya produksinya.

Kenaikan solar tidak dibarengi dengan kenaikan produksi ikan, karena sejak sepekan terakhir, harga ikan merosot. Ia mencontohkan, harga ikan jenis tuna berkualitas super di Tempat Pelelangan Ikan Pelabuhan Perikanan Pantai Tamperan pada kisaran Rp 32 ribu per kilogram. Padahal harga sebelumnya mencapai Rp 40 ribu per kilogram.

“Kalau dipaksa melaut, nelayan jelas rugi. Hal ini dampak dari kenaikan harga bahan bakar dan kondisi gelombang laut tinggi,” ujarnya.

Sementara, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Kelautan dan Perikanan Pacitan di Pelabuhan Perikanan Tamperan, Sudjuhan menuturkan berhentinya aktivitas nelayan berdampak pada penurunan produksi di tempat pelelangan. Menurut dia, sebelum harga solar naik, jumlah ikan yang dihasilkan nelayan rata-rata Rp 10 ton per hari. Namun, selama sepekan terakhir, hanya 2 ton saja rata-rata per hari. “Aktivitas di tempat pelelangan ikan juga sepi,” katanya.

Ikan di tempat pelelangan, kata Sudjuhan, banyak disuplai oleh nelayan lokal yang menggunakan perahu mesin berkapasitas kecil. Adapun kualitas ikannya lebih rendah dibandingkan hasil tangkapan nelayan yang menggunakan kapal berjenis sekoci dan purse seine. “Karena kapal kecil tidak mampu menembus jarak yang jauh, hanya di sekitar pelabuhan saja,” pungkasnya. (RAPP002)