Asyiknya Menikmati Sajian Delapan Kuliner Khas Pacitan Dalam Satu Hari

oleh -1.775 views
Produksi Tahu Tuna Pacitan. (Foto : Dok. Pacitanku)
Produksi Tahu Tuna Pacitan. (Foto : Dok. Pacitanku)

Pacitanku.com, PACITAN—Bagaimanakah rasanya seandainya kita menikmati kuliner dengan cita rasa berbeda dalam satu hari? tentu tak bisa dibayangkan, rasa yang berbeda akan menjadikan lidah kita menjadi semakin faham akan kekayaan kuliner Indonesia. Itulah yang terjadi saat Portal Pacitanku bekerja sama dengan Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara Kecap Bango berkesempatan melakukan ekspedisi warisan kuliner di Pacitan, Rabu (24/9/2014).

Tak tanggung – tanggung, delapan kuliner dengan berbagai cita rasa pun dinikmati dan menjadi pelengkap khazanah kekayaan kuliner nusantara. Ekspedisi warisan kuliner dimulai dari kunjungan ke Pasar Arjowinangun untuk menikmati salah satu kuliner jajanan pasar menyejarah khas Pacitan, yakni cenil. Petualangan berlanjut saat tim ekspedisi menuju ke kuliner fenomenal dari Pacitan lainnya, yakni Tahu Tuna Pak Ran.

Tim ekspedisi pun berkesempatan melihat proses produksi Tahu Tuna yang sudah memiliki ratusan cabang di seantero negeri ini. Mulai dari proses penggilingan ikan tuna, memasukkan ke adonan yang sudah diberi tepung tapioka, hingga yang terakhir adalah pengemasan dan pemasaran.

Ekspedisi kemudian berlanjut sembari menikmati makan siang di warung bu gandos, dimana di warung ini, sajian sea food khas pesisir selatan menjadi alat penggoyang lidah yang paling pas, terutama saat suhu siang yang panas berpadu dengan hembusan angin laut selatan. “Ikan laura ini pedesnya mantap, bikin nagih,” kata Stephanus, fotografer Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara.

Setelah menikmati santap siang di Bu Gandos, petualangan pun berlanjut di beberapa tempat dan industri kuliner di Pacitan, yakni Sale Anggur Sari Rasa di Desa Sirnoboyo, Kupat Tahu, Lotek, Lopis Ketan Hitam di Ngemplak, dan diakhiri dengan santap soto Giyem Disco di Desa Menadi.

“Masing – masing daerah memiliki kekhasan kuliner sendiri. Semisal di Pacitan ada kupat tahu, maka kupat tahu Pacitan berbeda dengan kupat tahu Ngawi, yang disana disebut tepotahu, pun demikian dengan soto Pacitan dan sale Pacitan,” ungkap Dio, Writer dan foodblogger asal Kota Bogor ini.

Setelah menyelesaikan ekspedisi warisan kuliner di Pacitan, tim pun langsung menuju ke Jakarta untuk menyelesaikan ekspedisi warisan kuliner di kota lain. Sebelum di Pacitan, tim ekspedisi warisan kuliner juga berkunjung ke beberapa daerah di Jawa Timur, diantaranya Ponorogo, Madiun dan Blitar.

Redaktur : Dwi Purnawan