Begini Cara Karang Taruna di Pacitan Jaga Kelestarian DAS Grindulu Saat Kemarau

oleh -1.270 views
Program kelestarian sungai Grindulu. (Foto : Murnianto)
Program kelestarian sungai Grindulu. (Foto : Murnianto)

Pacitanku.com, PUNUNG—Jelang musim kemarau yang melanda kawasan Pacitan, berbagai usaha harus dilakukan agar sumber air dan lingkungan tetap terjaga keasriannya, meski kondisi air semakin langka karena kemarau. Salah satu ide kreatifnya adalah seperti yang dilakukan Karang Taruna Songgolangit, Desa Gondosari bekerja sama dengan Karangtaruna Desa Kebonsari dan Desa Tinatar, Punung, Pacitan.

Kerjasama ketiga karang taruna tersebut adalah dengan melakukan gerakan konservasi dan perlindungan ekosistem air tawar di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Grindulu., tepatnya dari hulu sungai Grindulu utara di DAS Kali Telu.

Menurut Murnianto, salah satu anggota Karangtaruna setempat, hal yang dilakukan dalam konteks melakukan konservasi dan perlindungan ekosistem adalah dengan menyebarkan benih ikan air tawar di sungai, kemudian terus diawasi perkembangan ekosistem tersebut.

“Hindari penangkapan masal dengan jaring, strum atau penggunaan bahan kimia, maka dengan demikian, Insya Allah dua atau tiga tahun nanti Anda bisa melihat Wader berkeliaran, Melem berbaris, Urang Tepus sating gramang atau Lunjar berlompatan, cukup dengan berdiri di atas jembatan,” katanya kepada Portal Pacitanku, baru – baru ini.

Untuk program pelestarian lingkungan tersebut, dikatakan Murnianto, tidak harus menunggu program dari pemerintah, karena yang perlu dilakukan adalah menanamkan kesadaran masyarakat untuk selalu bersama memiliki sungai dan sumber daya alam. “Dengan cara seperti ini, anak cucu kita masih mengenal jenis ikan sungai itu di hari mendatang,” tandasnya.

Dengan program – program pelestarian lingkungan seperti ini, Murnianto berharap bisa diikuti di berbagai tempat lainnya di Pacitan. “Pada intinya kita cuma berharap masyarakat sekitar sungai pundi mawon bisa tahu dan tertarik untuk sadar lingkungan seperti yang kita lakukan,” pungkasnya.

Redaktur : Dwi Purnawan (ikuti twitter @dwi_itudua)