BPBD Pacitan Nyatakan 50 Desa Rawan Kekeringan

oleh -10929 views
Posko air bersih yang dibangun BPBD Pacitan di Jlubang, Pringkuku. (Foto : BPBD Pacitan)
Posko air bersih yang dibangun BPBD Pacitan di Jlubang, Pringkuku. (Foto : BPBD Pacitan)
Posko air bersih yang dibangun BPBD Pacitan di Jlubang, Pringkuku. (Foto : BPBD Pacitan)
Posko air bersih yang dibangun BPBD Pacitan di Jlubang, Pringkuku. (Foto : BPBD Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN—Jelang musim kemarau tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan mencatat 50 desa masuk dalam kategori III peta rawan kekeringan. Selain itu, berdasarkan info dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga menyatakan bahwa musim kemarau tahun ini akan berlangsung lama dibandingkan tahun lalu.

Jumlah itu naik tujuh desa dibanding kemarau 2013 lalu. Sedangkan jumlah dusun tercatat ada 107 dusun dengan 25.601 penduduk di tahun ini. Jumlah dusun tersebut juga mengalami peningkatan yang pada tahun sebelumnya yang hanya 87 dusun dengan 21.179 penduduk.

‘’Musim kemarau yang diprediksi lebih panjang sehingga ada peningkatan status desa dari kategori II atau I menjadi III,’’ ujar Pujono, Kepala Seksi, Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, dilansir dari Radar Madiun, Ahad (10/8/2014).

Penyematan kategori tersebut berdasarkan jauhnya jarak tempuh warga untuk mengambil air dari sumber yang masih ada. Semakin jauh jaraknya maka digolongkan dalam kategori III atau kritis kering. Pihaknya, sengaja lebih fokus pada desa yang masuk dalam kategori kritis kering itu.

BPBD mencatat ada empat kecamatan yang paling banyak memiliki desa dengan kategori kritis kering itu, yakni Kecamatan Punung, Pringkuku, Ngadirojo, dan Sudimoro. Selain itu ada delapan kecamatan lain yang masuk dalam peta rawan kekeringan.

‘’Rata-rata kontur tanah di Pacitan merupakan tanah kapur. Tingkat kemiringan tanah juga relatif besar sehingga penyerapan air tidak maksimal,’’ terangnya.

Siapkan Posko Kekeringan

Sebagai bentuk antisipasi kekeringan air, BPBD Pacitan juga menyiagakan posko tanggap darurat. Pihaknya sengaja melibatkan warga dari tiap-tiap kecamatan agar mempermudah penanganan. Posko tersebut juga akan disiagakan 24 jam penuh. Namun diakuinya hingga saat ini belum ada laporan terkait bencana kekeringan itu.

‘’Kalau laporan penurunan debit air sudah ada yang masuk. Tapi kalau yang benar-benar sudah kering sampai saat ini belum ada,’’ pungkas Pujono.

Redaktur : Robby Agustav