Formulasi Warna Alam Batik Saji Pacitan Segera Dipatenkan

oleh -Dibaca 1.710 kali
batik saji. (Foto : batik saji Pacitan)
batik saji. (Foto : batik saji Pacitan)
batik saji. (Foto : batik saji Pacitan)
batik saji. (Foto : batik saji Pacitan)

Pacitanku.com, PACITAN – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS)Surakarta akan mengupayakan untuk membantu perajin batik di Pacitan mematenkan formulasi warna alam yang diproduksi perajin di daerah itu.

Hal itu disampaikan oleh peneliti LPPM UNS Sarah Rum Handayani, salah satu perajin yang didampingi UNS yakni Batik Saji yang mengembangkan bahan pewarna alam untuk warna batiknya. ”Ada beberapa pewarna alam yang kami upayakan untuk dipatenkan, seperti halnya warna sogan dari kulit jolawe, kulit kayu tingi, dan mahoni,” ujar Sarah.

Dilansir dari Suara Merdeka, dia mengatakan, beberapa bahan pewarna alam yang digunakan perajin di antaranya yakni kulit kayu mahoni, kayu tegeran, akar pace, tawas, biji-bijian mlinjo, daun mangga, saren kapur, sarem tunjung, bunga jambe, bunga pisang (ontong), buah biksa, buah joho atau jolawe, buah talok, ketapang dan sebagainya.

Dijelaskan, untuk mendapatkan warna muda bisa diperoleh dari buah biksa, sedangkan buah joho atau jolawe akan menghasilkan warna hijau dan kuning, tergantung fiksasi. Kemudian kulit kayu tingi akan menghasilkan warna coklat kekuningan.

Untuk mengikat warna pekat digunakan tunjung, dan untuk menghasilkan warna cerah dengan pengunci tawas. Sarah mengatakan, ke depannya Batik Saji ingin mengangkat motif khas Pacitan, yakni motif wayang beber. Namun masih dalam pembicaraan dan kesepakatan dengan beberapa pihak lainnya.

Kerajinan rumahan milik Saji yang berada di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan ini lebih banyak memproduksi batik tulis dengan pewarna alam. Pasalnya, batik tulis pewarna alam sangat diminati pelanggan.

Saji mengungkapkan, untuk kain batik tulis dengan bahan mori prima dibanderol Rp 300-350 ribu per lembar. Sedangkan kain super dipatok Rp 850 ribu hingga Rp 1 juta per lembar. “Untuk kain sutra Alat Tenun Buka Mesin (ATBM) sarimbit harganya Rp 3,3 juta. Dalam satu bulan permintaan bisa 200-300 lembar,” kata Saji.

Redaktur : Robby Agustav