Potensi Marmer Pacitan Tak Kalah dengan Daerah Lain

oleh -132.253 views
Penambangan Marmer di Gunung Biting, Tulakan, Pacitan. (Foto : S. Koesnaryo/kemenengpdt.go.id)
Penambangan Marmer di Gunung Biting, Tulakan, Pacitan. (Foto : S. Koesnaryo/kemenengpdt.go.id)
Penambangan Marmer di Gunung Biting, Tulakan, Pacitan. (Foto : S. Koesnaryo/kemenengpdt.go.id)
Penambangan Marmer di Gunung Biting, Tulakan, Pacitan. (Foto : S. Koesnaryo/kemenengpdt.go.id)

Pacitanku.com, TULAKAN – Selain potensi pariwisatanya yang terkenal dengan keindahannya, Pacitan juga dikenal dengan potensi alamnya yang melimpah, salah satunya adalah potensi tambang di daerah yang dikenal dengan kota 1001 goa ini.

Beberapa waktu lalu, Deputi Bidang Pengembangan Sumberdaya KPDT bekerjasama dengan Pemkab dan dibantu ahli pertambangan dari ITB Bandung dan UPN Veteran Yogyakarta menggelar survei tentang potensi tambang marmer di Gunung Biting Dusun Ngelo, Desa Jetak, Kecamatan Tulakan.

Seperti diketahui, marmer adalah satu dari sekian banyak tambang yang dieksploitasi di Pacitan. Menurut data dari Pemerintah Kabupaten Pacitan, setidaknya pengembangan marmer di Pacitan memiliki luas areal 300 Ha atau 77juta m³, dengan total area yang dieksploitasi seluas 47 Ha. Marmer yang sering digunakan masyarakat untuk batuan hias, Ornamen, Ubin, mebel dan bahan bangunan lainnya.

Berdasarkan penelitian tersebut, diketahui batu marmer di Pacitan layak untuk ditambang dan dimanfaatkan sebagai batu ornamen. Bahkan jika didukung dengan infrastruktur transportasi yang memadai, maka batumarmer asal Pacitan kelak dapat bersaing dengan batumarmer daerah lainnya, seperti Tulungagung yang dikenal memiliki marmer kualitas unggul.

Batumarmer sebagian besar dimanfaatkan sebagai batu ornamen yang harganya tergantung pada warna dan ukuran. Makin besar ukurannya, harganya semakin mahal. Karena deposit terletak di permukaan, penambangan batumarmer biasanya dilakukan secara terbuka dengan membuat blok-blok dengan ukuran tertentu.

Namun demikian, pengembangan penambangan marmer di wilayah Gunung Biting Tulakan ini masih dilakukan secara tradisional. Sehingga hal ini seharusnya memantik minat investor untuk menerapkan sistem penambangan secara sederhana hingga semi-mekanis, dengan sebanyak-banyaknya melibatkan masyarakat sekitar.

Dengan demikian masyarakat sekitarlah yang akan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut, berupa terbukanya kesempatan kerja, memperoleh pendapatan tambahan, meningkatnya aktivitas ekonomi lokal.

Namun demikian, penelitian ini juga meminta untuk tidak mengesampingkan aspek penting lainnya dalam pengembangan pertambangan. Selain aspek legal (perizinan) dan faktor teknis operasional dalam penambangan, aspek penting yang perlu dilakukan sejak awal ialah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Dengan pengelolaan terpadu, legal dan tentunya memperhatikan aspek lingkungan dan sosial masyarakat, maka potensi tambang marmer akan menjadi potensi unggulan yang tentu sangat berguna bagi kemajuan Pacitan.

Redaktur : Robby Agustav