Harga Kelapa Anjlok, Pedagang Merana

oleh -Dibaca 1,414 kali
HARGA ANJLOK. Harga komoditi kelapa di Pacitan mengalami penurunan ditengah kenaikan harga kebutuhan pokok. (Foto: Siska Nurma Yuniar/PKL STKIP PGRI Pacitan)

Pacitanku.com, KEBONAGUNG – Di saat harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan, harga kelapa di Kabupaten Pacitan malah mengalami penurunan.

Seperti yang dialami  Irah (70) seorang pedagang kelapa asal Desa Sanggrahan, Kecamatan Kebonagung. Harga kelapa tua di Pacitan sebelumnya dijual Rp3.500 per butir, kini menjadi Rp1.500 per butir atau turun sebesar Rp2.000 per butirnya.

“Sebelum mengalami penurunan, harga kelapa dulu mencapai Rp3.500 per butir, semakin menurun hingga saat ini Rp1.500 per butir kalau kelapa sudah dipetik sendiri oleh yang jual dan Rp 1.000 per butir kalau dipetik langsung oleh pekerja saya,”katanya saat ditemui Pacitanku.com pada Rabu (10/8/2022) di kediamannya.

Harga kelapa yang semakin menurun sejak tahun 2020 tentu membuat membuat petani dan pedagang kelapa seperti Irah semakin merana.

Meski demikian, Irah  hingga saat masih semangat untuk bertahan mencari nafkah dari hasil berdagang kelapa.

Di wilayah Desa Sanggrahan, Kecamatan Kebonagung sendiri, banyak masyarakat yang memanfaatkan pohon kelapa sebagai sumber pencaharian mereka disamping hasil tani lainnya.

Seperti mengambil air nira atau dalam bahasa sehari-harinya disebut deres dan diolah menjadi gula jawa, mengolah buahnya menjadi minyak kelapa atau minyak klentik, ataupun langsung menjual buahnya.

Tim Pacitanku bersama pedagang kelapa dari Sanggrahan, Kebonagung. (Foto: Siska Nurma Y)

“Saya menjadi pedagang kelapa sejak tahun 1997, dan alhamdulillah bisa untuk menyekolahkan ketiga anak saya dan sampai sekarang mereka sudah berkeluarga semua,”ujar Irah.

Dirinya menjalankan usaha berdagang kelapa bersama sang suami, Yahmin. Walau usia mereka tak lagi muda, namun semangat dalam mencari nafkah tak juga padam. Semua demi memenuhi kebutuhan yang semakin hari semakin naik harganya.

Irah menceritakan dirinya membeli kelapa dari warga sekitar yang ingin menjual buah kelapanya lalu menjual kembali ke pasar setiap lima hari sekali atau setiap pasaran Wage.

Namun demikian, sebagian masyarakat lebih memilih untuk mengolah kelapa menjadi minyak goreng daripada harus menjual bijian. Hal itulah yang menyebabkan jumlah setoran kelapa Irah menurun, yang semula sekitar 2.000 butir sekali setor dan sekarang hanya sekitar 1.000 butir saja.

Saat ini, Irah sendiri memiliki empat orang pekerja yang membantunya memetik dan membersihkan kelapa.

Selain itu untuk sarana transportasi ia bekerjasama dengan tetangganya dan memberikan upah tiap kali setor ke pasar. Tak terbayang berapa jumlah yang harus ia keluarkan selain untuk transportasi juga untuk upah.

“Jadi tidak tiap setor kita dapat untung mbak, kadang hanya balik modal dan kadang juga rugi. Harga dari penadah di pasar makin turun jadi ya kita beli ke orang-orang juga lebih murah,”imbuh Yahmin, suami Irah.

Yahmin berharap agar harga kelapa suatu saat bisa naik kembali agar perekonomian pedagang dan petani juga kembali pulih.

“Mengingat harga berbagai kebutuhan pokok yang semakin melejit,”pungkasnya.