Cerita Suliyah, Tetap Berbagi dan Peduli Meski dalam Kondisi Keterbatasan

oleh -Dibaca 533 kali
Bersama 3 anaknya, Suliyah 40 Tahun tinggal di gubuk anyaman bambu yang berdiri di atas tanah perbukitan wilayah RT. 03 RW 06 Lingkungan Ngumbul Desa Mangunharjo Kecamatan Arjosari. (Foto: Sulthan Shalahuddin)

Pacitanku.com, PACITAN –  Sedekah tidak akan membuatnya miskin. Inilah kisah kehidupan dalam keadaan kondisi serba kekurangan, tidak  menjadikan keluarga miskin di Pacitan Jawa Timur ini harus kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Bersama 3 anaknya, Suliyah 40 Tahun tinggal di gubuk anyaman bambu yang berdiri di atas tanah perbukitan wilayah RT. 03 RW 06 Lingkungan Ngumbul, Desa Mangunharjo Kecamatan Arjosari Kabupaten Pacitan. Meski hidup dalam keterbatasan materi, Suliyah diketahui senang berbagi terhadap  sesama.

Selain hidup tak mampu, Ryan Ardiansyah (19) anak pertamanya ini memiliki kekurangan kondsi fisiknya. Sejak lahir Ryan tak menunjukan keanehan hanya saja menginjak usia 1 tahun Ryan berperilaku tidak seperti balita pada umumnya.

Di usia itu, Ryan sudah bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan siapapun. Setelah menginjak di atas 5 tahun wajah dan berperilakunya tidak seperti manusia normal. Terlihat dari mulai cara berjalan tangan dan kaki membengkok.

Sesekali berlari dengan kedua tangan dan kaki menyentuh tanah. Sampai usia sekarang yang sudah menginjak 19 tahun ini, ia belum bisa bicara. Namun 2 anak Suliyah lainnya terbilang normal dan beraktifitas seperti manusia biasa.

Suliyah menjelaskan, kondisi serba kekurangan itu tak membuatnya putus asa. Salah satu cara bersyukur dengan membagikan hartanya untuk warga lain yang juga kurang beruntung seperti dirinya. Berbagi ini sudah ia lakoni selama bertahun tahun. Bagi Suliyah, materi tidak berarti apapun jika tidak di sedekahkan.

“Hidup keluarga saya seperti ini, rumah gubuk berdinding anyaman bambu dengan campuran plastik. Lantai juga masih tanah liat. Sedangkan anak saya cacat dan menderita epilepsi. saya hanya bisa pasrah,berbuat baik terhadap orang lain dengan membagikan bingkisan sembako berisi beras, minyak atau nasi tiwul olahan saya sendiri. Walaupun makanan sehari hari keluarga ini hanya mengandalkan nasi tiwul dari ketela,”terangnya

Nindi Sri Rahayu menyebutkan, selain membagikan sembako buat warga kurang mampu di desanya, Suliyah juga diketahui menyumbangan tenaganya dengan mencarikan air untuk berwudlu warga yang akan menjalankan ibadah sholat.

Suliyah menyusuri jalan setapak perbukitan terjal sambl menggendong jirigen. Air wudlu itu Suliyah ambil dari sumber tengah hutan dengan jarak kurang lebih 1 kilometer dari tempat tinggalnya.

“Padahal kondisi keluarganya tergolong hidup miskin. Mau makan keluarga sendiri saja sulit, hdupnya saja susah dan memliki anak cacat.rumahnya gubuk, tapi memang orangnya senang bersedekah. Membagikan hartanya, seperti sembako bahkan jajanan kue kering untuk lebaran nanti dan jenis makanan lain hingga nasi tiwul buatanya sendiri,”jelasnya.

Sikap keseharian Suliyah ternyata bersahaja dan patut menjadi teladan bagi warga generasi muda atau bahkan kalangan masyarakat. Berbagi meskipun hidupnya sendiri masih serba kekurangan. Menjalani hidup apa adanya, terpenting baginya sedekah tidak akan membuatnya hidup miskin.