Jurnalis Diusir Saat Liputan PAW Desa di Kebonagung, Ketua FPPA: Kami Menyesalkan Kejadian ini

oleh -Dibaca 966 kali

Pacitanku.com, PACITAN –Seorang jurnalis di Pacitan mengaku mendapat perlakuan buruk saat melakukan kegiatan jurnalistik.

Bahkan, dirinya mengaku diusir dan disuruh menghapus foto-foto kegiatan yang telah diambilnya.

Perlakuan tidak mengenakkan itu dialami oleh Rio Ardian Permana, wartawan Inti Pos. Ia diusir saat meliput kegiatan Pengganti Antar Waktu (PAW) Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, di desa setempat pada Rabu (23/3/2022).

Kepada awak media, pria yang akrab disapa Tyo ini mengaku sempat ditarik-tarik oleh panitia kegiatan, agar tidak mendokumentasikan proses berlangsungnya pemilihan PAW.

“Saat saya masuk ruangan dan mengambil gambar untuk bahan berita, tiba-tiba saya ditarik oleh salah satu panitia, juga beberapa Linmas dan diminta ke luar ruangan. Lalu handphone saya disuruh buka dan disuruh hapus foto-foto hasil liputan,” ungkap Tyo, Rabu siang.

Dia menceritakan, sebelum diusir pihaknya sudah memperkenalkan diri lebih dulu dan mengaku dari media yang akan melakukan peliputan. Namun, dari pihak panitia tidak mengizinkan ada peliputan maupun sekadar dokumentasi kegiatan.

“Padahal saya sudah bilang dari media. Tapi panitia tidak mengijinkan ada peliputan, karena aturannya seperti itu katanya. Lalu saya tanya regulasinya, mereka bilang kalau ini sama dengan musdes, lalu saya disuruh keluar,” terangnya.

“Yang saya ambil (foto) bukan di bilik suara, tapi dipaksa dan di cek handphone saya lalu disuruh hapus foto-foto itu (kegiatan PAW). Padahal di ruangan tersebut ada ratusan bahkan bisa jadi ribuan orang yang hadir, sayangnya foto-foto sudah terhapus,” sambungnya.

Disoal apakah ada ancaman kepada dirinya, Tyo mengaku tidak merasa diancam. Namun, hanya nada yang sedikit menekan dan perlakuan yang kurang mengenakkan.

“Kalau saya tidak nuruti mereka (menghapus foto), kemungkinan bisa saja diancam. Dan jujur, saya tidak menerima (imbalan) apapun untuk menghapus foto-foto itu,” aku Tyo.

Ditanya apakah dia mengetahui sebelumnya jika ada kegiatan PAW, pihaknya tidak sengaja tahu, atau hanya mengetahui kegiatan itu dari pegawai di Kecamatan Kebonagung.

“Tahunya pas saya ingin menemui Pak Camat, tapi orang di kecamatan bilang kalau Pak Camat tidak ada, beliau di Desa Sidomulyo mengikuti kegiatan PAW,” katanya.

Tyo yang sedang sendiri pada saat melakukan peliputan tidak bisa berbuat banyak. Mau tidak mau ia menuruti permintaan panitia untuk menghapus foto-foto kegiatan, bahkan dirinya merasa kawatir akan perlakuan yang tidak diinginkan, jika terus berada di tempat tersebut.

“Saat hapus foto itu disaksikan panitia dan juga Linmas. Kalau di kegiatan PAW itu ada Kasat Pol PP, Camat, Kapolsek. Dan pada saat di luar, saya seperti diawasi sama Linmas. Saya merasa kawatir kalau terus tetap di sini, akhirnya saya balik,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Forum Pewarta Pacitan (FPPA), Agus Wibowo, sangat menyesalkan atas peristiwa yang menimpa jurnalis tersebut.

Bahkan, pihaknya telah mengambil langkah untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak, baik pihak kecamatan maupun kepolisian agar segera dilakukan mediasi.

“Saya sangat menyesalkan kejadian ini. Tadi saya sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak, dan akan segera dilakukan mediasi agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari,” kata Agus, sembari berharap ke depan agar menjadi pembelajaran bagi semua pihak.