Tim Paslon Indrata-Gagarin Luruskan Sejumlah Isu yang Berhembus di Pilbup Pacitan

oleh -13258 views
PASLON NOMOR URUT 1. Aji-Gagarin dalam kegiatan pertemuan dengan warga. (Foto: Dok/Istimewa)

Pacitanku.com, PACITAN – Anggota tim pemenangan pasangan calon bupati dan wakil bupati Pacitan nomor urut 1, Anung Dwi Ristanto meluruskan dan memberikan klarifikasi terkait sejumlah isu yang berhembus kepada paslon yang diusungnya, yaitu Indrata Nur Bayuaji-Gagarin.

Saat dihubungi Pacitanku.com, baru-baru ini, Anung yang juga legislator Partai Demokrat ini mengatakan proses pencalonan kedua tokoh yang juga mantan pimpinan DPRD Pacitan itu berawal dari niat masing-masing calon.

“Semua bakal calon itu berangkat niat berawal dari pribadi masing-masing calon, seperti kita ketahui bahwa masing-masing calon itu tentu punya latar belakang dan punya kelebihan sekaligus punya kekurangan, lha berikutnya, masing-masing pribadi itu berproses sesuai dengan ruang lingkupnya, dalam berproses itulah pribadi itu mengerucut menjadi paslon, karena disitu perlu ada wakil bupati dan wakil bupati,”jelas Anung.

Selain niat pribadi, seperti yang tertuang dalam aturan, calon itu bisa diberangkatkan oleh independen dan juga bisa diberangkatkan oleh parpol atau gabungan parpol. Sedangkan di Pacitan, paslon itu diberangkatkan oleh gabungan parpol.

“Artinya niat pribadi memjadi niat bersama menjalani proses dan menjalani pencalonan dari sekian proses yang panjang itu tentu secara umum pasti akan ada dinamika. Lha selanjutnya ketika pribadi tadi sudah mengerucut menjadi paslon, itu tentu muncullah disitu tentang hal yang positif dan sebaliknya hal negatif,”ujar Anung.

Terkait hal itu, Anung menilai hal itu tidak menjadi sesuatu hal yang penting. Karena, menurut Anung, yang penting bagi paslon adalah dalam hal ini adalah memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita masyarakat dan merelevansikan apa yang menjadi cita-cita paslon.

“Berkenaan dengan itu, hanyalah satu bagian untuk melengkapi dari proses sampai perjuangan itu bisa diakhiri dan bisa sesuai dengan apa yang diharapkan,”tandasnya.

Luruskan isu yang berhembus

Anung Dwi Ristanto Politisi Partai Demokrat.(Foto: Dok Anung/FB)

Seiring perjalanan pencalaonan Indrata-Gagarin, Anung mengatakan ada yang beberapa isu yang berkembang, baik yang menimpa Indrata maupun Gagarin.

“Yang pertama kaitannya dengan nepotisme, kaitannya dengan apa itu keluarga, kaitannya dengan lain sebagainya yang itu identik diterima oleh dalam hal ini Cabup mas Aji, lha artinya disitu tanggapan kami sederhana, apa yang diisukan itu itu adalah sesuatu hal secara umum kami bisa mengerti tapi mungkin kami secara umum juga belum sepenuhnya bisa menerima,”jelasnya.

Anung mengatakan, hal itu karena di dalam prosesnya, semua itu ada proses dan ada kompetisi, dimana Aji sebagai pribadi sampai bisa dicalonkan, itu tentu ada proses yang dilalui yang panjang, yang juga dia lalui.

“Kecuali kalau dia tidak melalui, dia melaluinya (proses) kok, terus yang kedua, proses kompetisi, artinya proses kompetisi itu sama kita tahu, bahwa hari ini kita juga berkompetisi, artinya kalau pun toh nanti kita memenangkan itu bukan berarti itu berarti itu langsung sesuatu hal hadiah dari orang lain, tidak,”ungkapnya.

Dari hal itu, Anung mengatakan sebenarnya sudah bisa menjawab bahwa apa yang dihembuskan tentang nepotisme, apa yang dihembuskan tentang kolusi dan lain sebagainya itu tidak benar.

“Mengapa tidak benar? Karena disitu ada proses dan ada kompetisi, kecuali kalau itu sebatas pemberian, itu beda. Itu berkaitan dengan Mas Aji,”tukasnya.

Berkaitan dengan Cawabup Gagarin, Anung mengatakan terkait kaitannya dengan isu agama, beberapa waktu Cawabup Gagarin kemarin sudah memberikan penjelasan kepada para pihak dan banyak pihak.

“Pertama disitu itu Pak Gagarin juga pertama diawali dari sebagai pribadi mencalonkan diri, dan dalam prosesnya, dia tentu menerima dukungan dari banyak pihak, lha hingga pada akhirnya final akhir itu adalah partai yang dalam hal ini beliau naungi partai golkar memberikan rekomendasi kepada pak  Gagarin untuk menjadi bakal calon wakil bupati,”ujarnya.

Menurut Anung, keputusan Partai Golkar merekomendasikan Gagarin itu menjadi suatu hal yang tidak bisa diantah. Dimana, Gagarin harus mentaati dari tentu menjadi keputusan dari partai yang memberangkatannya.

“Lha dan disitu Pak Gagarin tentu harus memilih, tanggapan bahwa kemungkinan isu-isu agama yang berkaitan dengan mengkhianati alim ulama atau kemungkinan mengkhianati kiai, itu hanya tinggal didudukkan dalam konteks yang bagaimana, artinya kan kesana, apakah justru tidak lebih keliru lagi, katakan saja pak Gagarin sebagai kader partai yang bermufakat atau kemungkinan ya dalam hal ini bersumpah di dalam partai, terus berikutnya mengkhianati partainya, kan juga tidak pada mestinya juga,”jelas Anung.

Menurut Anung, kondisi itu bukan menafikkan, tetapi semuanya perlu didudukkan hingga menjadi lebih jelas.

Isu selanjutnya, Anung mengatakan terkait paslon nomor 1 dalamhal ini tidakagamis, dirinya menanggapi semuanya itu adalah umat beragama, artinya umat beragama itu kita menitikberatkan tetap saling toleransi.

“Bukan berarti kita itu bukan orang yang tidak beragama, terus yang kedua, kami juga  bagian daripada ormas-ormas keagamaan, lha dari proses itu Insyaallah sejauh ini kami menghormati lembaga-lembaga institusi keagamaan itu, dengan tidak begitu melibatkan keberadaan dan peran-peran itu,”ujar Anung.

Anung justru mempertanyakan jika mungkin ada pihak lain yang menggunakan peran keagamaan untuk proses politik.

“Lha kalau memang manakala, kemungkinan ada pihak lain yang menggunakan peran-peran keagamaan untuk proses politik, justru kami mempertanyakan kembali, mempertanyakannya begini, mengapa harus begitu? Jika memang katakan mau berkompetisi ya sudah kita berkompetisi baik-baik, menawarkan apa yang perlu kita tawarkan atau kemungkinan meyakinkan masyarakat,”paparnya.

Menurut Anung, dalam proses politik, tidak harus kita melakukan hal-hal atau mempropaganda sesuatu dengan isu-isu keagamaan, karena menurut dirinya, hal itu tidak ada untungnya.

“Mengapa tidak ada untungnya, karena ya tentu ranahnya berbeda, kalau urusan agama itu mengurus tentang keberagamaan kita, kalau politik itu ya tentang kepemerintahan kita, jadi kita dudukkan saja sebagaimana mestinya itu.

Lha, berikutnya kaitannya dengan sikap kami, sederhana saja, cukup menjadi masukan cukup kami pelajari, cukup kami ketahui tapi tentu kami punya keyakinan dan cara sendiri untuk melakukan sesuatu hal yang lebih baik,”pungkasnya.

Pewarta: Dwi Purnawan