Tentang Perempatan Penceng Pacitan dan Sejuta Kenangan

oleh -1.946 views

Pacitanku.com, PACITAN – Salah satu titik tersibuk di Kota Pacitan adalah perempatan penceng. Mengapa kawasan ini menjadi kawasan tersibuk? Ya, karena perempatan ini menghubungkan Pacitan ke empat titik, yakni ke arah kota, ke arah terminal bus dan pasar Minulyo, ke arah Tulakan dan Kebonagung dan ke arah Arjosari.

Setiap hari, jalan di perempatan Penceng ini juga menjadi salah satu kawasan terpadat di Pacitan. Salah satu yang turut mempopulerkan adalah ketika penumpang bus dari arah Ponorogo hendak turun, kemudian bilang kepada kondekturnya, turun di Penceng. Atau di kawasan ini terdapat sejumlah pertokoan besar yang menjadi pusat perbelanjaan, sehingga namanya menjadi semakin popular.

Tak hanya itu, saat masih ada kawasan pasar tengah di kawasan Penceng ini, juga kawasan ini ramai menjadi tempat mangkalnya sejumlah kendaraan umum, sehingga nama perempatan penceng semakin populer.

Suasana inilah yang kemudian bagi sebagian masyarakat Pacitan, yang mungkin berada di perantauan, menjadi saat-saat yang dirindukan atau menyimpan sejuta kenangan. Kenangan saat sekolah di Pacitan turun di penceng. Kemudian naik becak menuju ke sekolah. Atau berbagai kenangan lainnya. Misalnya mungkin pernah ditilang polisi di kawasan tersebut. Untuk hal ini, admin juga pernah mengalaminya lho. Dan tentu menjadi pelajaran agar kedepan lebih tertib lalu lintas.

Lalu, mengapa namanya disebut perempatan atau simpang empat penceng? Padahal, secara administratif tidak ada jalan, dusun, lingkungan, atau kelurahan bernama Penceng. Informasi dari berbagai sumber, nama tersebut muncul karena bentuk perempatannya “menceng” atau agak serong alias tidak lurus. Jika dilihat dari atas, posisi kawasan tersebut terlihat tidak presisi. Dan persilangannya tidak membentuk empat sudut siku-siku alias 90 derajat.

Tak hanya itu, posisi masing-masing arah dalam satu ruas jalan tidak lurus berhadap-hadapan. Sehingga, masyarakat menamakan perempatan Penceng. Namun belum jelas dan tidak diketahui siapa yang pertama kali menyebutnya, yang jelas nama tersebut berkembang hingga saat ini.

Dokumen sejarah di kawasan tersebut juga hanya memperlihatkan kawasan Penceng di tahun 1975, seperti yang dikutip dari laman Pacitan Tempo Dulu. Saat itu, jembatan Penceng terlihat pada tahun 1975, pada saat renovasi bangunan untuk talud disebelah selatan.

Karena menjadi salah satu titik paling sibuk dan padat, kawasan ini terus dikembangkan oleh pemerintah Kabupaten Pacitan. Mulai dari pembangunan patung pejuang kemerdekaan dan garuda pancasila, hingga pembangunan taman penceng. Serta yang paling gress adalah pembangunan tugu parasamya purna nugraha di titik tengah kawasan tersebut.

Taman penceng ini dibangun beberapa waktu yang lalu dengan mencontoh model yang sudah popular di berbagai kota di tanah air. Seperti di Kota Bandung, Surabaya dan lain sebagainya. Untuk semakin mempercantik kawasan perempatan penceng, Pemkab membangun sebuah tugu yang mengidentifikasi prestasi di daerah tersebut. Sekaligus mengganti billboard iklan raksasa yang terletak tepat ditengah perempatan penceng.

Awalnya dikira tugu tersebut berbentuk buah pace yang selama ini dianggap menjadi ikon Pacita. Atau akik yang juga menjadi komoditas ekonomi paling popular dalam beberapa tahun yang lalu. Namun ternyata Pemkab Pacitan malah membangun tugu bernama Parasamya Purnakarya Nugraha (PPN).

Mengapa Pemkab membangun tugu PPN ini? Usut punya usut, ternyata hal itu karena buah penghargaan yang diperoleh Pemkab tahun 2014 yang lalu.

Sekedar informasi, penghargaan PPN merupakan tanda kehormatan tertinggi pelaksanaan pembangunan daerah dari pemerintah pusat. Pacitan mendapatkannya pada 2014 silam.

Tentu, pembangunan Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha di perempatan Penceng itu bermakna menjadi tetenger bagi seluruh masyarakat Pacitan bahwa pemerintahan di masa kepemimpinan Bupati Indartato pernah mendapatkan tanda pengrhagraan Parasamya Purnakarya Nugraha (PPN) sebagai bentuk penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik.

Sekilas, tugu PPN di perempatan penceng ini seperti mirip dengan tugu di Titik Nol Km Jogja yang memiliki nilai historis yang tinggi saat peristiwa serangan umum 1 Maret.

Bentuk tugu bernilai Rp478 juta dengan tinggi  sembilan meter itu memiliki beberapa undakan berbentuk persegi. Dan undakan paling atas 1,25 meter. Terdapat mahkota putih selebar tiga meter.

Selain itu, untuk tugu lebarnya empat meter. Semua dibuat persis trofi aslinya. Lambang Garuda Pancasila dan bintang kehormatan serta keterangan, berada di salah satu sisi tugu. Ada juga corak kuning emas di penghargaan asli, di tugu diganti batu marmer agar terkesan lebih keren.

Memang, pembangunan tugu penceng yang baru alias tugu PPN ini tak memuaskan semua pihak. Banyak juga yang protes usai postingan Pacitanku di Instagram atau facebook terkait landmark baru Pacitan ini.

Tapi bisa jadi ini adalah salah satu cara  untuk mengabadikan menjadi sebuah monument tentang prestasi yang pernah diraih Pacitan. Namun secara umum, kawasan perempatan penceng adalah titik yang bagi sebagian orang menjadi kawasan yang ngangeni. Kawasan yang dirindukan. Meski hanya kota kecil, Pacitan memang selalu di hati.

Teman-teman, sekali-kali coba main ke kawasan perempatan penceng ya, namun hati-hati karena ini jalur cukup ramai. Jaga keindahan, jaga kebersihan kota dan rawat fasilitas yang ada. Selamat menikmati sejuta kenangan di perempatan penceng.

Video Perempatan Penceng