Dampak Banjir Batu Arjosari: Akses ke Proyek Waduk Tersendat, Warga Sempat Terisolir

oleh
Banjir Batu di Sungai Grungu, Karangrejo, Arjosari. (Foto: Agoes Doyock/Info Pacitan)
Banjir Batu di Sungai Grungu, Karangrejo, Arjosari. (Foto: Agoes Doyock/Info Pacitan)

Pacitanku.com, ARJOSARI – Derasnya aliran anak sungai Grindulu di Desa Karangrejo, Kecamatan Arjosari, Pacitan membawa petaka, yakni banjir batu pada Minggu malam (8/1/2017). Banjir batu yang terjadi sejak Maret tahun lalu, hingga kini di Karangrejo, Arjosari, membuat ruas jalan penghubung Karangrejo-Karanggede tersendat. Bebatuan kecil hingga besar masih berada di badan jalan hingga memenuhi sebagian besar anak sungai Grindulu.

Bukan hanya jembatan yang terdampak. Lalu lintas Karangrejo-Karanggede pun demikian. Selain dirasakan warga, kendaraan proyek pembangunan waduk Tukul di Karanggede ikut terkena imbasnya. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan, Budiyanto, tidak menampik hal itu. ‘’Material (banjir batu) itu memang berdampak pada jalan. Namun itu kewenangan pelaksana proyek waduk Tukul,’’ terangnya.

Pelaksana proyek yang dimaksud Budiyanto adalah PT Brantas Abipraya. Perusahaan plat merah itu bekerja di bawah kuasa Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dalam mengerjakan proyek tersebut. Menurut Budiyanto, guguran batu yang mengenai jalan kabupaten itu sepenuhnya merupakan wewenang PT Brantas Abipraya.

Sesuai kesepakatan kerjasama, pemeliharaan jalan menjadi tanggung jawab PT Brantas Abipraya karena mereka yang kini lebih banyak menggunakan jalan tersebut sebagai bagian dari fasilitas proyek. ‘’Meskipun kami juga punya kepentingan (atas jalan Karangrejo-Karanggede), namun kini jalan tersebut juga sudah menjadi bagian dari kebutuhan proyek mereka,’’ ujarnya.

Karena itu, apapun yang berdampak pada jalan dari Karangrejo menuju Karanggede menjadi urusan PT Brantas Abipraya. Termasuk, guguran bebatuan banjir batu dari bukit Parangan di Karangrejo. Kesepakatan kerjasama tersebut, dinilai sama-sama menguntungkan kedua belah pihak.

Menurut Budiyanto, PT Brantas Abipraya sebelumnya bahkan sempat melebarkan badan jalan Karangrejo-Karanggede untuk keperluan fasilitas kendaraan besar yang melintas ke proyek. ‘’Akses jalan tersebut bahkan sempat tertutup karena guguran bebatuan. Ini kan memang terjadi karena faktor alam,’’ kata Budiyanto.

Meski demikian, bukan berarti DPUPR lepas tangan sepenuhnya. Budiyanto menyebut pihaknya bakal ikut turun tangan jika PT Brantas Abipraya membutuhkan bantuan terkait pemeliharaan jalan kabupaten itu. Namun yang jadi soal, akses Budiyanto ke proyek tersebut ternyata terbatas.




Dia tidak memonitor berapa persen progres proyek waduk Tukul lantaran kuasa proyek sepenuhnya ada pada BBWS Bengawan Solo. Pemkab Pacitan seakan hanya ketempatan hajat. ‘’Pemkab tidak tahu menahu kemajuan proyek tersebut berapa persen. Rapat evaluasi soal itu pun kami juga tidak tahu. Seperti tidak ada keterkaitan,’’ jelasnya.

Banjir batu tersebut juga menyebabkan warga RT 6/RW 6 Dusun Wonosari, Karangrejo sempat terisolasi. Terputusnya jembatan membuat sedikitnya 100 warga di RT tersebut harus terisolasi. Selama 24 jam lebih warga terkurung karena derasnya arus sungai. Jembatan yang ada diduga terputus karena dampak dari banjir batu sejak Maret, tahun lalu. ‘’Arus sungai deras jadi warga nggak bisa ke mana-mana. Jembatan juga terputus karena dampak dari banjir batu,’’ ungkap salah seorang warga setempat, Tri Hartawan.

Tri menuturkan, jembatan dengan selebar dua meter dengan panjang 30 meter itu terputus Jumat (6/1) sore, sekitar pukul 17.00. Saat itu, aliran anak sungai Grindulu yang membatasi RT 6/ RW6 dusun Wonosari ke jalan utama Karangrejo-Karanggede sangat deras.

Menurut dia, derasnya aliran sungai tersebut bahkan sudah berlangsung sejak enam hari yang lalu. Maklum, daerah tempat tinggalnya kerap diguyur hujan lebat selama sepekan terakhir. Pun setiap kali masuk musim penghujan, aliran anak sungai Grindulu di desa tersebut memang selalu deras. ‘’Sebab aliran sungai ini merupakan percabangan dari sungai besar (Grindulu) di Karanggede, yang lebih tinggi,’’ ujarnya.

Aliran sungai yang kelewat deras menghancurkan oprit (bagian ujung jembatan setelah tiang jembatan yang menyambung ke tanah, red) di bagian selatan jembatan tersebut. Karena merupakan akses utama, Sabtu (7/1) lalu, warga kemudian menggelar kerja bakti.

Bebatuan material banjir batu yang memenuhi sebagian besar anak sungai Grindulu dibronjong untuk dijadikan oprit sementara agar lalu lintas kembali normal. Menurut warga lainnya, Jamil, jembatan penghubung hasil swadaya warga itu sudah berusia lebih dari 10 tahun.

Salah satu tiang pondasinya juga sudah pernah rusak parah karena terjangan banjir batu. Namun, warga bereaksi cepat dengan menambal tiang pondasi tersebut. Menurut Jamil, jembatan tersebut sangat penting bagi warga. ‘’Rusak pun sebisa mungkin diperbaiki. Sebab, kalau tidak lewat sini memutar jauh dan tidak semua sepeda motor bisa lewat,’’ terang Jamil.

Sementara, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Pacitan, Diannita Agustinawati, menuturkan penyebab terputusnya jembatan penghubung RT 6/RW 6 Wonosari ke jalan utama Karangrejo-Karanggede karena tidak kuat menahan derasnya aliran anak sungai Grindulu. Sebab, 80 persen lebar anak sungai tersebut dipenuhi bebatuan material banjir batu dari bukit Parangan. Sejak tahun lalu hingga sekarang, guguran batu bahkan masih kerap terjadi.

‘’Karena ada penyempitan lebar sungai, maka arusnya menjadi lebih deras. Di samping bertambahnya volume air di hulu sungai Grindulu akibat hujan terus menerus,’’ jelas Diannita.  (mg4/rif/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun