Cerita dari Pelosok Arjosari: Satu Sekolah Hanya 15 Siswa, Gantian Jadi Ketua Kelas

oleh -13971 views
sekolah-minim-siswa-pacitan-370x247
Sekolah minim siswa. (Foto: JIBI/Madiunpos)

Pacitanku.com, ARJOSARI – Tri Aditya Saputra bersama tiga temannya melangkah perlahan menyusuri jalanan setapak menuju SDN 03 Gunungsari, yang menjadi tempatnya menimba ilmu. Letak sekolah itu sekitar dua kilometer dari rumahnya yang berada di Dusun Gombong, Desa Ketepung, Kecamatan Kebonagung.

Jika ditempuh dengan jalan kaki kira-kira membutuhkan waktu 30 menit dari rumah mereka menuju sekolah yang berada di Dusun Tleken, Desa Gunungsari, Kecamatan Arjosari. ‘’Hari ini (kemarin) saya berangkat pagi karena piket bersih-bersih kelas setelah upacara,’’ ujar Adit–sapaan akrabnya, kemarin (5/9).

Di sekolah, siswa kelas V itu mengaku hanya memiliki satu teman sekelas saja. Namanya adalah Sanju Gus Ramhal. Adit dan Sanju bersama sejak di bangku kelas I. Karena hanya berdua, tiap tahun mereka bergantian menjadi ketua kelas. ‘’Kalau tahun ini saya, berarti nanti kalau naik ke kelas VI dia (Sanju, Red) yang giliran jadi ketua kelasnya,’’ ungkap putra pasangan Misno-Tukini tersebut.

Berada satu ruangan dengan siswa kelas VI yang tempatnya hanya dipisahkan papan triplek, Adit mengaku tak merasa terganggu. Namun dia berharap ada baiknya setiap kelas diberikan satu ruangan untuk mempermudah kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun, dia keberatan kalau sekolahnya digabung dengan sekolah lain. ‘’Kalau ditutup, saya nggak sekolah. Soalnya, jauh pindahnya,’’ terangnya polos.

Adit bukan hanya satu-satunya yang keberatan jika SDN 03 Gunungsari diregrouping. Ada juga Maryati, orang tua murid dari Aulia Ramdhani. Dia menolak seandainya sekolah tersebut ditutup oleh Dindik Pacitan karena jumlah muridnya sedikit. Sebab, sekolah tersebut dinilainya menjadi tumpuan pendidikan bagi putrinya beserta anak-anak lainnya dari Dusun Tleken dan Gombong. ‘’Meskipun siswanya sedikit, jangan sampai ditutup sekolah ini,’’ ujarnya.

Maryati menyebut, SDN 03 Gunungsari adalah satu-satunya sekolah negeri terdekat dari rumahnya. Sekolah tersebut juga berperan mencegah anak-anak putus sekolah karena terkendala jarak tempuh. Bahkan anaknya Aulia yang masih berusia 5 tahun sudah dimasukkan sekolah walaupun belum cukup umur. ‘’Karena tidak ada Taman Kanak-kanak (TK) di wilayah ini,’’ ungkapnya.

Satu sekolah hanya 15 siswa

Siswa minim menjadi problem abadi yang dialami SDN 03 Gunungsari, Kecamatan Arjosari. Setiap tahun ajaran baru, siswa yang masuk sekolah itu tidak habis dihitung dengan jari sebelah tangan. Tahun ini saja, sekolah yang terletak di antara perbatasan Kecamatan Arjosari dengan Kebonagung tersebut hanya menerima tiga siswa baru.

Total ada 15 siswa yang saat ini menimba ilmu di sekolah tersebut. Sebagian besar siswa tinggal di wilayah RT 11 dan 12 Dusun Tleken, Desa Gunungsari, Kecamatan Arjosari. Ada juga yang berasal dari Dusun Gombong, Desa Ketepung, Kecamatan Kebonagung. Mereka bersekolah di SDN 03 Gunungsari lantaran jarak sekolah relatif dekat dengan tempat tinggal. Meskipun kondisi sekolah tersebut sangat minim fasilitas.

Belasan murid itu menghuni tiga ruang kelas dari total empat ruang yang ada. Untuk kelas V dan VI yang masing-masing terdiri dari dua siswa digabung dalam satu ruang kelas dengan dipisahkan papan triplek. Begitu juga dengan kelas IV yang terdiri dari tiga murid dan kelas III dengan dua siswa. Ruangan yang mereka tempati tepat berada di ujung dengan hanya dipisahkan papan kayu sepanjang 2,5 meter. Sementara kelas I dan II yang masing-masing terdiri dari tiga siswa ditempatkan di sebuah ruang kelas yang persis di samping ruang guru dengan papan triplek sebagai pembatas.

Buku ajar terbatas

Kondisi buku bahan ajar juga tidak jauh beda dengan jumlah murid. Jumlahnya juga sangat terbatas. Sehingga, mereka harus berbagi. Dalam hal ini pihak sekolah tidak memungkinkan untuk menarik biaya apapun kepada para siswa. Terlebih, kondisi perekenomian orang tua seluruh siswa SDN 3 Gunungsari jauh dari cukup. Mereka mayoritas didominasi dari keluarga kalangan buruh tani dengan hanya upah rata-rata antara Rp 500 ribu – Rp 1 juta per bulan.

Bukan hanya itu saja, jumlah guru di sekolah tersebut juga sangat minim. Total ada enam tenaga pengajar. Dimana dua diantaranya berstatus guru tidak tetap (GTT) dan empat lainnya berstatus PNS. Apabila ada satu guru saja yang absen karena alasan mengikuti pelatihan dan pendidikan (diklat) atau workshop, kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk dua kelas dirangkap satu guru.

Tak ada sekolah lainnya

Kepala SDN 3 Gunungsari Juminen mengatakan, sebenarnya ada 19 siswa yang saat ini menempuh pendidikan di sekolah yang didirikan sejak tahun 1986 tersebut. Hanya saja, empat siswa lainnya yaitu Aulia, Rafa, Jonas dan Kayla yang saat ini masih duduk di bangku kelas I tidak tercatat resmi sebagai murid di sekolah tersebut. Sebab, mereka belum cukup umur alias usianya baru 5-6 tahun. Sehingga dianggap belum layak. ‘’Mereka terpaksa kami tampung, karena di desa ini tidak ada lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) atau taman kanak-kanak (TK) terdekat dari rumahnya,’’ ujarnya, kemarin (5/9).

Juminen mengaku, keputusan itu diambilnya karena memang adanya permintaan dari para orang tua murid. Pasalnya, sangat tidak memungkinkan memaksakan mereka untuk menempuh pendidikan TK maupun PAUD sementara lokasi keberadaan lembaga tersebut jauh dari rumah. ‘’Sekitar lima kilometer jauhnya kalau harus ke PAUD atau TK,’’ terangnya.

Karena itu, mau tidak mau Juminen menerima murid belum cukup umur tersebut. Itu semua dilakukannya semata-mata untuk menekan angka anak putus sekolah di desa tersebut. Sekaligus untuk menjaga semangat anak-anak agar mau bersekolah. Karena terbatasnya uang, mereka digabung dengan siswa kelas I. Hanya, pembelajarannya berbeda. ‘’Biasanya, mereka kami berikan pembelajaran menggambar dan menulis. Sekaligus untuk mengenal lingkungan sekolah. Jadi kalau nanti umurnya sudah cukup, tidak susah lagu menyesuaikan diri,’’ jelas Juminen.

Juminen mengaku sejak dirinya menjabat sebagai kepala SDN 3 Gunungsari tiga tahun lalu, jumlah siswa yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut terus menurun. Saat dirinya pertama menjabat sebagai kepala sekolah pada tahun 2013 lalu, SDN 3 Gunungsari masih memiliki 19 siswa. Tahun berikutnya jumlah siswa tinggal 14 karena ada siswa yang lulus. Jumlah itu bertahan hingga tahun 2014. ‘’Baru tahun ini mengalami kenaikan. Tambah satu anak menjadi 15 siswa,’’ terangnya.

Masuk daftar regroupung

Minimnya siswa di SDN 3 Gunungsari, sempat membuat sekolah tersebut masuk daftar regrouping. Pada tahun 2013 lalu, Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan berencana menggabungkan dengan SDN 01 Gunungsari. Tetapi rencana itu urung direalisasi karena berbagai pertimbangan. Salah satunya jarak tempuh yang cukup jauh. Yakni, sekitar lima kilometer dari rumah untuk menuju ke sekolah. ‘’Selain itu, dikhawatirkan akan anak-anak banyak yang putus sekolah. Ya, karena pertimbangan jarak yang cukup jauh itu tadi,’’ ungkap Juminen.

Kepala UPT TK/SD Arjosari Subiyanto menambahkan, memang belum saatnya sekolah tersebut diregrouping. Apalagi, Bupati Pacitan Indartato menginstruksikan agar program regrouping tersebut dihentikan sementara waktu. ‘’Pertimbangannya, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati fasilitas pendidikan di desa tersebut. Meskipun, kondisinya cukup berat,’’ katanya.

Problem minim siswa dan guru di SD 03 Gunungsari, lanjutnya, sebenarnya bisa disiasati dengan model pembelajaran multigrade. Yakni satu guru mengajar dua kelas. Apalagi SK bupati lama mengenai multigrade itu juga belum dicabut. ‘’Hanya saja, SK tersebut peraturannya menyesuaikan dengan peraturan yang ada diatasnya,’’ jelasnya. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun