Ini Strategi Jatim Hadapi Pasar Bebas 2016

oleh -204 views
Gubernur Jatim, Dr H Soekarwo saat memberikan Sembako Gratis di Monumen Gubernur Soerjo Ngawi (Foto : Pemprov Jatim)
Gubernur Jatim, Dr H Soekarwo saat memberikan Sembako Gratis di Monumen Gubernur Soerjo Ngawi (Foto : Pemprov Jatim)

Pacitanku.com, SURABAYA – Tahun 2016 adalah tahun yang sangat menantang bagi Jawa Timur yakni dimulainya pasar bebas terbuka Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Untuk menghadapi dan agar menang dengannya, maka kata kunci yang paling ampuh adalah mencintai produk-produk bangsa sendiri.

”Nasionalisme dalam pengertian pasar bebas yaitu mencintai produk-produk dengan syarat memenuhi standarisasi dan kualitasnya harus baik. Maka, yakinlah dengan kualitas SDM yang baik dan intelegent market yang bagus, maka kita akan menarik manfaat dari pasar bebas,” kata Gubernur Jatim, H Soekarwo pada Malam Doa dan Syukur Tahun Baru Masehi 2016 belum lama ini di Surabaya, dilansir laman Pemprov Jatim.

Sampai Nopember 2015, perdagangan Jatim di kawasan ASEAN surplus, kecuali Thailand. Dengan Vietnam surplus 142 juta Dolar AS. Memang Vietnam kuat dalam  bidang elektronik, semoga Samsung investasi di Jatim sehingga bisa balance dengan Vietnam.




Ekspor yang paling besar adalah perhiasan dengan nilai mencapai 3 miliar 417 juta Dolar AS atau sekitar Rp 40 triliun, dan menduduki peringkat pertama, sedangkan kedua furniture. “Oleh karena itu, Ibu-ibu jangan beli perhiasan di luar negeri, karena semua perhiasan itu di suplai dari Jatim,” pesan Pakde

Jatim adalah tempat yang paling baik dalam menjaga keamanan dan kenyamanan. Hal itu karena masyarakatnya yang guyup, rukun dan tidak gaduh. Pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Jatim lewat pimpinan DPRD. Masyarakat Jatim luar biasa, sehingga tercipta suasana kompak, gotong royong, dan rukun.

Menurutnya, setiap hari nampak nilai-nilai kebersamaan dan toleransi, kepedulian terhadap suara yang tidak terdengar dan mengajak masyarakat di pinggiran untuk ke tengah, sampai pada kegiatan-kegiatan bencana. Semua itu nampak dalam sikap masyarakat Jatim yang mendahulukan kepentingan umum. Masyarakat inilah, masyarakat yang sudah matang didalam keterbukaan, memegang  nilai kultural/budayanya, tapi juga memperkuat nilai spiritualitasnya dalam kehdidupan.

“Oleh karena itu kita wajib bersyukur pada Allah SWT atas perjalanan dan berakhirnya tahun 2015, dan tahun 2016 mengharap semuanya lebih baik. Tanda-tanda  lebih baik semua ada, tetapi tidak cukup kalau kita tidak berdoa kepada Allah SWT agar tanda-tanda ini menjadi terwujud,” ujarnya.

Ia juga mengharapkan dukungan dari para tokoh agama dan tokoh masyarakat, karena tidak ada gunanya pembangunan meningkatkan kesejahteraan kalau keluar dari basis dasar nilai spiritualitas. Karena diatas etika dan moral adalah bangunan spiritual. “Atas nama pemerintah Jatim kami mengucapkan terima kasih kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat yang tidak jemu-jemunya membangun kebersamaan,” katanya.

Peningkatan Sektor Industri Melalui Jatimnomics

Menurutnya, pada tahun ini, Jatim akan terus meningkatkan sektor industri dan perdagangan antar provinsi. Jika tahun sebelumnya perdagangan antar provinsi telah digiatkan, maka tahun 2016 peningkatan ekonomi dilakukan juga pada sektor industri. “Jatimnomics menjadi motor penggerak perekonomian Jatim. Jika dulu perdagangan antar provinsi terus dilakukan, maka sekarang ditambah dengan peningkatan sektor industri,” jelasnya.

Ia mengatakan, dengan perkuatan di perdagangan antar provinsi dan sektor industri, Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Jatim bisa mencapai 5,9 – 6,2 persen. Sedangkan pemprov memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2016 mencapai 5,5 – 5,8 persen.

Menurut Pakde Karwo, tahun 2016 menjadi momentum Jatim sebagai provinsi industri tepatnya industri primer mulai dari yang kecil, menengah hingga atas. Dalam menumbuhkembangkan industri primer, Pemprov Jatim melakukan pendampingan pembiayaan melalui skema sistem perbankan dengan linkage program antara Pemprov Jatim, Bank Jatim dan Bank UMKM serta BPR di masing-masing kabupaten/kota.

“Kalau suku bunga masih tinggi, itu namanya deindustrialisasi. Untuk itu, Pemprov Jatim mencari solusi industri keuangan yang murah bagi masyarakat yakni dengan skema sistem perbankan linkage program antara Pemprov Jatim, Bank Jatim dan Bank UMKM serta BPR kabupaten/kota,” kata Pakde Karwo.




Lebih lanjut disampaikannya, dengan skema pembiayaan murah dapat menimbulkan manfaat yang baik  bagi masyarakat seperti biaya produksi menjadi lebih murah, daya saing lebih tinggi. Karena produk menjadi lebih murah, kualitas yang didorong lebih baik, serta distribusi menjadi lebih cepat yang didorong dengan banyaknya pelabuhan di Jatim.

Untuk perdagangan antar provinsi terus dilakukan dan menjadi keunggulan Jatim. Dalam pengembangan pasar yang kompetitif, Pemprov Jatim memperkuat pengembangan Kantor Perwakilan Dagang (KPD) di 26 provinsi se-Indonesia, yang sudah mulai beroperasional sejak tahun 2010.

Dijelaskannya, keberadaan KPD menjadi solusi perdagangan Jatim. Penguasaan pasar domestik melalui KPD mempermudah ekspansi pasar Jatim di luar batasan wilayah administrasi Jatim. Melalui 26 KPD ini, Jatim dapat menjangkau ekspor luar negeri seperti melalui Hub Batam ke Singapura, Hub Manado ke Filipina, Hub NTT dan Papua ke Australia dan Papua Nugini.

Impor-ekspor melalui KPD ini mampu memperbesar pasar domestik karena 40% potensi pasar ASEAN ada di Indonesia. Tahun lalu dari Jatim ke luar provinsi itu Rp. 415 triliun. Sedangkan yang masuk ke Jatim Rp. 325 triliun. Jadi ada surplus capital inflow Rp. 90 triliun.

Pakde Karwo berharap, tahun 2016, Jatim diharapkan lebih baik dengan basis rukun, aman nyaman, gotong royong dan kebersamaan. Jika dilakukan, maka pembangunan dan kerja jadi lebih baik, kesejahteraan pun bisa diwujudkan.

“Kita bersyukur tahun 2015, Jatim mengalami pertumbuhan secara inklusif. Kesejahteraan masyarakat membaik dilihat pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Tahun 2016, Jatim semangat untuk membangun dan meningkatkan toleransi, gotong royong, awareness terhadap lingkungan, manifesnya dengan situasi aman dan nyaman,”  pungkasnya. (RAPP002/Jatimprov)