Bedah Nilai Gizi Nasi Thiwul Pacitan

oleh -13570 views
Singkong
Singkong
Singkong
Singkong

Pacitanku.com, PACITAN—Nasi Thiwul yang menjadi kuliner khas Pacitan ternyata memiliki nilai gizi yang cukup baik bagi tubuh. Hal iti dikarenakan bahan baku nasi thiwul Pacitan adalah cassava atau ketela. Sedangkan diketahui bahwa sumber kalori potensial nonpadi adalah jagung dan cassava.

Dari sisi kandungannya, cassava ternyata punya keunggulan daripada padi. Ia punya lebih banyak kandungan lemak, kalsium, zat besi, vitamin A dan C. Bila tepung cassava dicampur dengan 18 persen tepung kedelai maka tepung komposit tersebut menjadi bahan pangan pokok bergizi tinggi dan lebih lengkap jika dibandingkan dengan padi. Ditambah dengan telur maka lengkaplah tiwul itu memiliki kandungan protein sebesar 29 persen.

Cassava juga punya keunggulan lain yaitu kemampuan tanaman ini beradaptasi dengan lingkungan marginal. Ia juga bisa ditanam di berbagai medan secara lebih merata di seluruh wilayah di negeri ini. Jika dipanen hasilnya bisa mencapai 25 ton per hektare per 9 bulan atau 134 kkal/hari, sedangkan padi sawah dengan asumsi dua kali panen hanya 12 ton per hektare setara dengan 125 kkal/hari. Artinya, dengan pengolahan yang sederhana saja menjadi tepung komposit ubi kayu bisa menjadi bahan pangan bergizi tinggi dan lengkap.

Dari segi produksi Singkong pun layak dijagokan dibanding dengan Beras, karena singkong memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Singkong dapat tumbuhdi berbagai medan secara lebih merata di seluruh wilayah di negeri ini.

Jika dipanen hasilnya bisa mencapai 25 ton per hektare per 9 bulan atau 134 kkal/hari, sedangkan Padi sawah dengan asumsi dua kali panen hanya 12 ton per hektare setara dengan 125 kkal/hari. Artinya, dengan pengolahan yang sederhana saja menjadi tepung komposit ubi kayu bisa menjadi bahan pangan bergizi tinggi dan lengkap.

Oleh karena itu, peran Singkong dalam sistem pangan global menuju tahun 2020 layak untuk diperhitungkan. Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil pengumpulan data pola konsumsi penggunaan sumber kalori utama non-padi di Papua, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung.

Namun demikian dari sisi ketahanan pangan, pemberdayaan tiwul sebagai alternatif sumber makanan tetap perlu diperhitungkan. Lebih-lebih apabila sentuhan teknologi dapat mengatasi kendala ketidakpraktisan dan lamanya waktu proses penyiapan makanan tiwul. Sentuhan teknologi kembali diharapkan dapat mengatasi persoalan rendahnya kandungan gizi dalam bahan makanan tiwul melalui proses pengayaan kandungan nutrisi dengan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh manusia.

Pemberdayaan tiwul sebagai salah satu alternatif sumber makanan bagi masyarakat diyakini dapat memperkuat ketahanan pangan nasional. Sebab, pemberdayaan tiwul sebagai sumber alternatif makanan masyarakat dapat mensukseskan program diversifi kasi pangan di dalam negeri. upaya tersebut meliputi pemroduksian tiwul instan.