Tunggul Wulung dan Upacara Adat Tetaken

oleh -435 views
Tetaken
Tetaken

Pacitanku.com, KEBONAGUNG—Pacitan terletak 524 Km sebelah timur dari Ibukota Jakarta dan 209 arah barat daya dari kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten yang terkenal dengan Gunung Limo ini mempunyai tradisi yang unik. Karena menganut penanggalan Jawa, yaitu tepat pada 1 Syuro. Seperti daerah Jawa lainnya, untuk memperingati bulan baru Hijriyah diadakan beberapa kegiatan. Beberapa diantaranya adalah pengajian, melekan, tirakatan, perajahan, larung sesaji dan napak tilas sejarah. Sedangkan di Gunung Limo beberapa orang melakukan teteki atau bertapa di bulan itu, selanjutnya para pertapa tersebut disambut oleh masyarakat dalam bentuk perayaan “TETAKEN” yang diadakan setiap tanggal 15 bulan Syuro.

Tetaken berasal dari kata “tetekian”, “teteki” mendapat imbuhan “an” (tetekian) yang berarti pertapa-an, bermakna tempat pertapaan. Karena karakter bahasa setempat untuk mempermudah penyebutan maka kata “tetekian” berubah pengucapannya menjadi “tetaken” tanpa mengurangi makna sesungguhnya. Tradisi tersebut diadakan untuk mengingat kembali proses datangnya Eyang Tunggul Wulung dan Mbah Brayut ke Gunung Limo dan menetap di lereng Gunung Limo.

Digambarkan dalam ritual ini, sang juru kunci Gunung Lima turun gunung. Bersama para cantriknya yang sekaligus murid-muridnya. Mereka baru selesai menjalani tapa di puncak gunung dan akan kembali ke tengah masyarakat. Bersamaan turunnya para pertapa dari puncak gunung, iring-iringan besar warga muncul menyambut para pertapa memasuki areal upacara. Masyarakat mengenakan pakaian adat Jawa. Barisan paling depan adalah pembawa panji dan pusaka Tunggul Wulung (Panji Tunggul Wulung, Keris Hanacaraka, Tombak Kyai Slamet, dan Kotang Ontokusumo/Jubah Hitam pertapa).

Eyang Tunggul Wulung adalah orang pertama yang melakukan babat alas di lereng Gunung Limo kemudian menjadi Desa Mantren. Beliau juga diyakini sebagai orang yang melakukan penyebaran agama Islam di Tanah Jawa yang sebelumnya lebih banyak menganut agama Hindu dan Budha. Kedatangannya di lereng Gunung Limo diiringi seorang asisten yang bernama Mbah Brayut yang akhirnya menjadi cikal bakal dan menetap di Sidomulyo.

Sejarah Eyang Tunggul Wulung bermula dari kedatangan prajurit “soreng” seiring Kasultanan Demak Bintoro yang berdiri di abad 15. Seorang prajurit “soreng pati” sebutan prajurit kerajaan Demak Bintoro (berasal dari kata sura ing pati yang berarti rela berkorban/mengabdi sampai mati) berpangkat “Mantri Tamtama”, yang kemudian lazim disebut Eyang Tunggul Wulung generasi pertama, bagi masyarakat Pacitan mungkin bukan sekedar figur sejarah semata. Hal ini terutama terjadi di kalangan masyarakat lereng Gunung Limo yang meyakini bahwa Eyang Tunggul Wulung-lah penguasa pertama Gunung Limo, sekaligus pelopor penyebaran agama Islam di Desa Mantren dan sekitarnya. Sedangkan nama Desa Matren berasal dari kata “mantri” yang berati penguasa yang memiliki kebijakan. Berdasar urutan pangkat dari atas: (1) Raja/Sultan; (2) Adipati/Bupati; (3) Demang/Camat; (4) Mantri/Lurah; (5) Punggawa/Pegawai kerajaan atau pangkat dalam kerajaan; (6) Tamtama/prajurit; (7) Soreng Pati prajurit khusus berani mati. Hal ini menunjukkan bahwa Eyang Tunggul Wulung adalah penguasa daerah tersebut.

Eyang Tunggul Wulung, tidak lain adalah salah seorang prajurit yang mendapat perintah Raden Patah (Raja Kasultanan Demak Bintoro) menjaga pusaka bendera panji hitam yang disebut panji “Kyai Tunggul Wulung” untuk dikibarkan di puncak-puncak gunung di tanah Jawa sebagai tanda syiar Islam secara turun-temurun. Karena mendapat tugas untuk menjaga panji Tunggul Wulung, soreng pati yang berpangkat mantri tamtama tersebut diberi gelar Eyang Tunggul Wulung sesuai dengan nama pusaka yang dijaganya. Hal serupa juga terjadi pada pengangkatan Kyai Jayaniman pada masa Diponegoro sebagai Bupati Pacitan yang bergelar “Kanjeng Jimat” setelah mengabdikan diri sebagai juru pusaka di gedong Jimatan (1812-1826).

Ketenaran nama Tunggul Wulung sebagai simbol syiar Islam tidak hanya di Gunung Limo. Di KadipatenWengker (sekarang bernama Ponorogo) pada era Demak, Raden Katong (Betara Katong) yang bernama asli Lembu Kanigoro putra raja Majapahit Brawijaya V dari ibu yang berasal dari Bagelen, selaku adipati beliau memiliki pusaka tombak pengibar panji kejayaan yang bernama “Tunggul Wulung”. Tombak Tunggul Wulung milik Betara Katong tersebut sebagai pusaka simbol peradaban Islam di Ponorogo. Sampai saat ini tombak Tunggul Wulung bersama dengan pusaka Payung Tunggul Naga dan ikat pinggang Cinde Puspito masih rutin setiap tahun diarak dalam tradisi kirab “Napak Tilas” pada 1 Syuro dari komplek makam Betara Katong menuju pusat kota.

Masa senja kala Majapahit yang ditandai mulai redupnya pengaruh kekuasaan Raja Brawijaya V, saat kakak tertuanya Raden Jaka Purba yang berganti nama sebagai Raden Fatah, mendirikan Kasultanan Demak Bintoro. Lembu Kanigoro mengikuti jejaknya, untuk berguru di bawah bimbingan Wali Songo di Demak.

Dengan tujuan memperluas kekuasaan dan syiar Islam, Raja Demak mengirimkan santri-santri sekaligus mantri tamtama pilihan menuju Wengker. Salah satu yang terbaik adalah Raden Katong lalu kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman, yaitu di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan (Purwowijoyo. Babad Ponorogo Jilid I. Ponorogo : CV. Nirbita, 1978: 22).

Pada tahun 1486, hutan dibabat atas perintah Batara Katong, tentu bukannya tanpa rintangan. Banyak gangguan dari berbagai pihak-pihak yang tidak berkenan dengan kedatangan Batara Kathong di Bumi Wengker, bahkan menurut mitos termasuk makhluk halus yang datang. Namun, karena bantuan warok dan para prajurit Wengker, akhirnya pekerjaan membabat hutan itu lancar. Para punggawa dan anak cucu Batara Katong inilah yang kemudian mendirikan pesantren-pesantren sebagai pusat pengembangan agama Islam.

Beliau kemudian dikenal sebagai Adipati Sri Batara Katong (gelar yang diberikan oleh Sunan Kalijaga) yang membawa kejayaan bagi Ponorogo pada saat itu. Hal ini ditandai dengan adanya prasasti berupa sepasang batu gilang yang terdapat di depan gapura kelima di kompleks makam Batara Katong di mana pada batu gilang tersebut tertulis candrasengkala memet berupa gambar manusia, pohon, burung ( Garuda ) dan gajah yang melambangkan angka 1418 saka atau tahun 1496 M (Purwowijoyo. Babad Ponorogo Jilid I, 49-50).

Batu gilang itu berfungsi sebagai prasasti “Penobatan” yang dianggap suci. Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut dapat ditemukan hari wisuda Batara Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo, yakni pada hari Ahad Pon Tanggal 1 Bulan Besar, Tahun 1418 saka bertepatan dengan Tanggal 11 Agustus 1496 M atau 1 Dzulhijjah 901 H (Prasasti Batu di Komplek Makam Batara Katong).

Ditulis Oleh : Nur Ichwan Pacitan

Redaktur : Robby Agustav (@robbyagustav)