Pandemi COVID-19 Diharapkan Jadi Sarana Saling Introspeksi Diri

oleh -13243 views
Bambang Trenggono, salah satu guru pengajar silat di Pacitan. (Foto: Yuniardi Sutondo)

Pacitanku.com, PACITAN – Budaya saling bersilaturahmi saat hari lebaran, perlahan mulai terkikis. Tak sedikit masyarakat perantau yang mudik, terkesan mengabaikan tradisi adi luhung tersebut.

Mereka datang jutsru lebih mengedepankan euforia jati dirinya, dengan menunjukan keberhasilan mereka selama merantau.

“Tradisi ini sebenarnya sudah mulai nampak beberapa tahun belakangan. Masyarakat perantau yang datang ke kampung halaman, bukannya lebih mengedepankan tradisi bersilaturahmi, tetapi mereka cenderung ingin menunjukkan jari dirinya atau keberhasilannya selama merantau,”kata salah seorang budayawan di Pacitan, Bambang Trenggono, Jumat (15/5/2020).

Menurut Bambang, tradisi saling mengunjungi dan berbagi, seakan mulai tereduksi seiring kemajuan zaman. Para pendatang yang mudik atau pulang kampung, apalagi mereka yang sudah tidak punya orang tua, justru terkesan hanya sekedar berwisata.

Belum lagi kalau mereka kumpul-kumpul kerabat atau reunian, akan banyak menunjukan siapa diri dan keluarganya.

“Mereka akan banyak bercerita tentang kesuksesannya. Bercerita tentang keberhasilan anak-anaknya dan sebagainya. Sementara makna dari tradisi bersilaturahmi hilang,”katanya.

Menurut Bambang, reunian terkesan hanya dijadikan ajang pamer. Bagi mereka yang kehidupannya belum berhasil, pasti akan enggan untuk datang.

“Nah, inilah yang menurut saya sudah mulai adanya pengikisan nilai-nilai tradisi bersilaturahmi,”jelas pria yang juga seorang pensiunan ASN lingkup Pemkab Pacitan.

Pada tahun ini, hiruk-pikuk arus mudik, seketika meredup seiring munculnya badai coronavirus disease 2019 (COVID-19). Masyarakat di perantauan, banyak yang tidak bisa pulang kampung karena ketatnya aturan pemerintah, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Bagi Bambang, musibah ini diharapakan bisa menjadi sarana penyadaran diri bagi semua umat. Bahwa pangkat, kedudukan, harta melimpah, ternyata tidak ada arti. Yang paling berharga adalah kesehatan.

“Karena itulah, musibah ini bisa menjadi media kita untuk saling introspeksi diri. Lebih bisa mendekatkan diri sama yang di atas, dan saling menghargai sesama. Harta, pangkat dan kedudukan, tidak ada arti apa-apa kalau kita tidak diberikan kesehatan,”pungkasnya.

Pewarta: Yuniardi Sutondo
Editor: Dwi Purnawan