Begini Keseruan Kesenian Asli Pelem-Pacitan Tampil di Korea Selatan

oleh -1.479 views
SACPA tampil di Beyond Border Busan Korea Selatan. (Foto: Suk Jin Hong)

Pacitanku.com, PACITAN – Bulan Oktober 2019 adalah bulan pertukaran budaya bagi Sampang Agung Center for Performing Art (SACPA). Setidaknya ada empat program yang menghubungkan SACPA dengan dunia internasional melalui seni dan budaya di bulan itu.

Program pertama di awal Oktober  SACPA menerima kunjungan dari artistik direktur Tong Tong Festival Netherland, Arnaud Kokosky Deforchaux. Setiap tahun Arnaud keliling Indonesia untuk mencari seniman-seniman yang akan diundang ke Tong Tong Festival tahun depannya.

Pertama kali berkenalan adalah ketika Arnaud menyaksikan pertunjukan Agung Gunawan dan Deasylina di Melaka Art & Performance Festival 2012. Hal ini yang menyebabkan Agung dan Deasylina kemudian diundang di Tong Tong Festival tahun 2013 dan 2015.

Selanjutnya, tanggal 9 Oktober 2019 kemarin adalah ketiga kalinya Arnaud berkunjung ke SACPA. Dan untuk menyambut kunjungannya, SACPA menampilkan beberapa karyanya, yaitu Tari Topeng Genjring (Koreografer: Anang Setiawan, Komposer: Johan Adiyatma Baktiar, karya tahun 2015), Tari Thengul (Koreografer dan Koreografer: Sukarman), Tari Ruung Sarung (Koreografer: Deasylina da Ary, Komposer: Johan Adiyatma Baktiar), Karya Musik Mimpi (Aransemen: Johan Adiyatma Baktiar), dan ditutup dengan musik Bambu Dangdut (Bamdut) dari Etnika Bendhe Sampang.

Bamdut adalah merupakan kreativitas anak muda Desa Pelem yang terinspirasi dari beberapa aktivitas seni yang telah mereka lakukan, yaitu Ronthek, Gamelan dengan Dangdut yang merupakan sebuah genre musik yang popular di masyarakat Desa Pelem, dan bahkan aktivitas seni tari.

Program kedua adalah kujungan dari grup Kulture Revival Events Core dari Filipina. Grup ini adalah sebuah komunitas budaya yang menyelenggarakan festival budaya sebanyak 6-8 festival setiap tahunnya di Filipina.

Selain sebagai penyelenggara, mereka juga pelaku yang dalam hal ini mereka juga merupakan performer baik penari dan juga pemusik. Grup ini dibawa dan diperkenalkan kepada SACPA oleh Rosalie Zerruddo, seorang aktivis budaya di Filipina dan juga sekaligus juga dosen di Universitas San Agustin, Iloilo Filipina.

Pada kunjungan selama dua hari (14-15 Oktober 2019) ini, mereka ingin melihat dan merasakan langsung filosofi “Art is Life dan Life is Art” yang dicetuskan oleh Agung Gunawan direktur SACPA, yang kemudian menjadi nafas bagi setiap gerak SACPA.

Deasylina mengajarkan tari eklek untuk seniman di Busan, Korsel. (Video: Dok SACPA)

Dalam kegiatannya, mereka mengikuti pelatihan meditation and  improvisation oleh Agung Gunawan, pelatihan Tari Eklek oleh Deasylina da Ary, dan pelatihan musik tari Eklek oleh Johan Adiyatma Baktiar. SACPA menyajikan pertunjukan karya selama dua malam berturut-turut.

Di malam pertama (welcoming performance) karya yang dipentaskan adalah: Tari Topeng Genjring (Koreografer: Anang Setiawan, Komposer: Johan Adiyatma Baktiar, karya tahun 2015), Tari Thengul (Koreografer dan Koreografer: Sukarman), dan Tari Ruung Sarung (Koreografer: Deasylina da Ary, Komposer: Johan Adiyatma Baktiar).

Pada malam kedua (Farewell Performance) karya yang dipentaskan adalah: Tari Surup (Koreografer: Deasylina da Ary, Komposer: Ilham Mappatoya, Hari Wirawan, & Johan Adiyatma Baktiar), Tari Mubeng Beteng (koreografer: Agung Gunawan, Komposer: Otok Bima Sidarta), Deye (koreografer: Agung Gunawan), dan ditutup dengan penampilan dari Etnika Bendhe Sampang.

Program ketiga adalah workshop tari Melayu oleh seniman asal Sabah-Malaysia, Rithaudin Abdul Kadir, pada tanggal 24-25 Oktober 2019. Workshop ini diikuti oleh 80 siswa LKP Seni Pradapa Loka Bhakti.

Pelaksanaannya dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama sore antara jam 15.00 – 17.30 WIB untuk peserta anak-anak, dan sesi kedua antara jam 19.00 – 21.30 WIB untuk peserta remaja.

Din, sapaan untuk Rithaudin membawakan materi 4 tarian Melayu yaitu: Tari Inang (Tarian istana yang menceritakan tentang Dayang-dayang istana), Tari Asli, Tari Zapin, dan Joget. Di hari kedua, hasil workshop ini dipentaskan di panggung SACPA dengan mengundang para orang tua/wali siswa. Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia, dan My Dance Alliance Malaysia.

Program yang keempat adalah konferensi budaya “Beyond Border” dengan tema Cultural Diversity di Busan – Korea Selatan. Program ini diselenggarakan oleh Busan Cultural Foundation, dengan mengundang para aktivis dan pelaku budaya dari berbagai Negara.

SACPA yang diwakili oleh Agung Gunawan dan Deasylina da Ary menjadi salah satu peserta yang diundang. Kegiatan yang dilaksanakan pada 27 Oktober hingga 3 November 2019 ini terdiri dari forum, workshop, kolaborasi, dan pertunjukan.

Inilah keempat program yang seakan mempersempit jarak antar perbedaan dan keberagaman. Perbedaan dalam arti perbedaan latar belakang budaya, dan keberagaman dalam arti kekayaan seni dan budaya.

“Air dari halaman belakang, sungai, danau, dan lautan kita semuanya unik dan berbeda, namun pada dasarnya itu adalah air yang sama. Demikian juga, kita manusia pada dasarnya sama, terlepas dari tempat tinggal kita, apa yang kita makan dan apa yang kita yakini,”kata Agung Gunawan.