Wah, Rupiah Kembali Melemah Dekati Rp15 Ribu Per Dollar AS

oleh -131.392 views
An Indonesian employee holds stack of Indonesian rupiah banknotes at a money changer in Jakarta, Indonesia, 25 August 2015. The Indonesian rupiah tumbled against the US dollar, hovering around 14,050 per dollar on 25 August after the China's yuan devaluation effect on Asian currencies. EPA/MAST IRHAM

Pacitanku.com, JAKARTA – Nilai tukar dolar Amerika Serikat semakin menunjukkan taringnya terhadap rupiah. Dolar AS semakin dekat ke Rp15.000.

Mengutip perdagangan Reuters, Rabu (4/9/2018), pagi ini dolar AS berada di posisi 14.925. Dolar sempat mendekati level Rp 15.000 dan menembus level 14.989 di level tertingginya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan tekanan eksternal maupun domestik menyebabkan terjadinya badai yang sempurna (perfect storm) dan menjadi pemicu terjadinya pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Sri Mulyani dalam rapat kerja Badan Anggaran di Jakarta, Selasa (4/9/2018) dikutip dari Antaranews, menyatakan badai yang sempurna itu berupa defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2018 sempat tercatat sebesar tiga persen terhadap PDB yang disertai guncangan ekonomi yang terjadi di Venezuela, Argentina, serta Turki.

“Pada Juli, impor tercatat tumbuh tinggi, dan CAD menjadi negatif. Ini menjadi kejutan. Maka ketika ada sentimen negatif, karena Argentina mendapatkan bantuan dari IMF dan terkait kondisi Turki saat ini, ada ‘perfect storm’,” katanya.

Ia menjelaskan kondisi yang terjadi di Argentina maupun Turki bisa menjadi risiko baru, karena mulai terjadi pembalikan modal di berbagai negara berkembang, seiring dengan normalisasi kebijakan moneter dan kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (Bank Sentral AS).

Situasi ini bisa menganggu pergerakan kurs rupiah meski kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini lebih baik dari Argentina maupun Turki.

Para pemilik modal, tambah dia, bisa saja menganggap kondisi perekonomian Indonesia sama seperti Argentina dan Turki, yang saat ini, sama seperti Indonesia, tercatat sebagai negara G20.

“Sekarang ‘fund manager’ besar, seperti (Franklin) Templeton yang memegang ‘bond holder’ 1,3 miliar dari Argentina melakukan ‘re-balancing’. Jadi walau belum tentu struktur ekonomi sama, mereka bisa saja melakukan ‘re-balancing’,” kata Sri Mulyani.

Ia mengakui lingkungan ekonomi global yang menantang seperti ini masih dapat terjadi tahun depan dan diperkirakan dapat memberikan dampak negatif terhadap negara-negara berkembang pada 2019.