Keren, Puluhan Seniman SACPA Pacitan Hibur Warga Australia, Begini Ceritanya

oleh -132.035 views
Tari Eklek di depan komunitas Aborigin Wujobaluk (image diambil dari The Oasis Rainbow FP)

Pacitanku.com, RAINBOW – Komunitas seni Pradapa Loka Bhakti atau saat ini dikembangkan menjadi Sampang Agung Center for Performing Art (SACPA) kembali menghibur masyarakat Australia dalam Oasis Rainbow The Embodied Landscape, sebuah festival pertukaran budaya yang juga melibatkan berbagai negara.

Sebagai informasi, Rainbow adalah sebuah kota kecil di sebelah barat laut kota Melbourne dengan penduduk kurang dari 500 orang.

Deasylina Da Ary, koreografer, penari, musisi SACPA  menuturkan bahwa ada perbedaan sistem sekolah di Rainbow dengan di Indonesia.

“Di sini, SD, SMP, dan SMA berada dalam satu payung sekolah, menyatu dan berkelanjutan. Siswa tiap jenjang kelas berjumlah 12-15 siswa,”kata perempuan yang juga dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini, dalam keterangannya, Senin (7/5/2018).

Cultural exchange bersama komunitas Aborigin Wujobaluk (image diambil dari The Oasis Rainbow FP)

Dia menuturkan bahwa SACPA diundang ke museum barang antik TERARA dan latihan bersama kelompok Pramuka Rainbow. “SACPA mempertunjukkan tari Ngremo sebagai salam perkenalan kepada penduduk Rainbow. Interaksi berlanjut, dan pada puncaknya, SACPA mengajak penduduk Rainbow untuk berjoget dangdut,”ujarnya.

Baca juga: Simak Serunya Komunitas Seni PLB Tour di Negeri Kanguru

Selanjutnya, SACPA diajak untuk ikut dalam acara ANZAC DAY, semacam peringatan hari pahlawan. Di acara ini, Agung dan Deasy diberi waktu untuk menyampaikan karangan bunga bersama Walikota Rainbow ke monumen pahlawan yang ada di pusat kota rainbow.

Karya “Dry Leaf” dalam pertunjukan utama The Oasis Rainbow (image diambil dari The Oasis Rainbow FP)

Acara ini diikuti oleh semua keluarga pahlawan perang, sesepuh atau orang-orang tertua di kota Rainbow, disaksikan oleh seluruh penduduk Rainbow. Setelah acara penghormatan di monumen, acara berlanjut dengan parade mengelilingi monumen, dan upacara peringatan di dalam gedung serbaguna di sisi monumen.

“Di Rainbow ini keturunan pahlawan perang diberi kesempatan untuk memperkenalkan para pahlawan yang telah berjasa bagi negara mereka, sehingga semua penduduk menjadi tahu siapa saja pahlawan di daerah mereka. Ini sangat berbeda dengan di Indonesia. Selain pahlawan yang terpampang di buku sejarah, kita tidak tahu para pahlawan di daerah kita sendiri, yang jasanya tidak kalah penting bagi Indonesia,”jelasnya.

Setelah mengikuti Anzac Day, siangnya SACPA diajak mengunjungi gereja bersejarah di Rainbow, yang berdiri kurang lebih 100 tahun yang lalu. Di gereja ini, SACPA mempertunjukkan karya musik ‘MIMPI’.

Karya tari “Mimpi” duet antara Agung Gunawan & Deasylina dalam pertunjukan utama

“Garapan acapela dari lagu ‘Impen-Impenen’, sebuah lagu lawas dari banyuwangi, yang kami bawakan membuat para penduduk Rainbow banyak yang terharu dan menangis,”kata Johan, komposer SACPA.

Lantunan suara yang mendayu didukung oleh bentuk akustik bangunan gereja sangat mendukung pertunjukan kami. Meskipun mereka tidak mengerti dengan syair yang kami bawakan, akan tetapi suara kami menyentuh langsung dalam ruang kalbu para penduduk Rainbow.

Sementara, SACPA berkesempatan untuk berinteraksi dengan komunitas Aborigin Wujobaluk.

“Di atas bukit padang pasir putih yang membentang, kami saling belajar dan berbagi budaya, menari dan menyanyi bersama. SACPA mengajarkan tari Eklek kepada mereka,” kata Agung Gunawan, sutradara sekaligus pimpinan rombongan SACPA.

Workshop Tari Eklek

Deasylina melanjutkan bahwa pada hari ketiga, SACPA memberikan workshop di Khnill College, sebuah sekolah yang mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran wajibnya. Workshop yang diberikan adalah workshop tari dan musik Eklek.

 “Siswa-siswi sangat tertarik terhadap workshop yang diberikan. Sayangnya, waktunya sangat pendek. Sehingga, siswa dan siswi Khnil hanya mencicipi dasar dari tari dan musik Eklek,” kata Deasy.

 Setelah selesai workshop tari dan musik Eklek, saatnya SACPA diajak tour sekolah oleh siswa-siswi kelas 10-12. Kesempatan ini dimanfaatkan para siswa Khnil untuk mempraktekkan kemampuan berbahasa Indonesia mereka.

Dia menuturkan SACPA mereka dapat mengenal lebih jauh Khnil College. Sementara itu Dr Deasylina mempresentasikan Pacitanian (Model Pendidikan Seni Berorientasi lingkungan) pada para guru Khnill College.

“Para guru sangat tertarik dengan Model pendidikan ini. Mereka terinspirasi untuk memanfaatkan lingkungan mereka menjadi sumber belajar bagi siswa-siswi mereka,”ujarnya lagi.

Selanjutnya, SACPA diberi kesempatan untuk membuka acara tersebut dengan karya ‘Mubeng Beteng’.

Selanjutnya, siang hingga sore hari, SACPA bergabung dalam Mapping Rainbow, sebuah pertunjukan site spesifik dengan lokasi di beberapa titik dalam kota Rainbow, bersama beberapa seniman dari berbagai negara.

Deasylina menuturkan bahwa SACPA juga mementaskan karya ‘Dry Leaf’, diawali dengan karya ‘Mimpi’ (duet dance Agung & Deasy), pertunjukan dari seniman lokal Rainbow, dan dari komunitas Aborigin Wujobaluk. Pertunjukan ini mendapat sambutan yang luar biasa dari kurang lebih 400 orang penonton yang hadir.

“Hari keenam, tour Kangaroo. SACPA diajak ke hutan dimana Kanguru hidup untuk menyaksikan hewan khas Australia tersebut dari dekat. Sorenya, mereka kembali ke Melbourne untuk kemudian terbang kembali ke Indonesia,”ujarnya lagi.

Deasy menyebut bahwa “Tour ke Australia ini, sangat bermakna bagi SACPA. Bukan hanya karena anak-anak berkesempatan bisa pergi ke Australia, akan tetapi pengalaman selama dua minggu dengan tempat berbeda (Melbourne dan Rainbow) ini, memberikan banyak pembelajaran kepada anak-anak SACPA secara langsung. 

“Pembelajaran tentang pola hidup, cara berinteraksi, kesenian dan kebudayaan yang berbeda, dan lain-lain tidak akan mereka dapatkan di sekolah, yang akan memberikan dampak pada kehidupan mereka selanjutnya,”paparnya.

“Sekolah-sekolah yang telah mendapat materi workshop dari SACPA masih penasaran dan ingin lebih mempelajari tari Eklek dan budaya Jawa yang kami bawa. Mereka sangat ingin datang dan berkunjung ke Pacitan, ke desa Pelem tempat SACPA, untuk belajar dan berinteraksi dengan masyarakat di sana. Semoga ada kesempatan dan perhatian dari pemerintah baik pusat maupun daerah tentang hal ini. Sehingga interaksi ini dapat berlanjut dan bahkan berkembang,”pungkas Deasy.