Ini Alasan Salini Pilih Berselancar daripada Modelling

oleh -132.143 views
Pemred Portal Pacitanku bersama Salini Rengganis
Bersama Salini Rengganis

Pacitanku.com, PACITAN – Pemerintah Indonesia mulai gencar mempromosikan olahraga berselancar atau surfing sebagai salah satu kegiatan wisata. Belum lama ini Pemerintah Kabupaten Lampung mengadakan Krui Pro 2018, kontes surfing internasional yang telah menginjak tahun ke-dua.

Dalam ajang tersebut ada sosok wanita peselancar muda yang menarik perhatian, yakni Salini Rengganis.

Salini lahir di Yogyakarta pada 13 Agustus 1998. Meski belum genap 20 tahun, ia sudah mengenal dunia surfing sejak berusia lima tahun. Instruktur pertamanya adalah sang ayah.

“Dulu pas pertama pindah ke Pacitan (Jawa Timur) aku bilang ke ayah kalau mau surfing. Waktu itu masih umur lima tahun. Terus ayah belajar surfing dan akhirnya dia yang ajarin aku,” kata Salini, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia pada Kamis (26/4/2018).

Salini lanjut mengatakan, awalnya ayahnya ingin dirinya menjadi model. Namun ia merasa kalau perempuan yang mahir surfing terlihat jauh lebih keren.

Salini mengaku senang karena saat ini olahraga surfing mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak.

Mengenai Krui Pro 2018, ia mengaku sangat terkesan dengan ombak di perairan Lampung itu, walau menjangkau lokasinya tidak mudah.

“Di sana sudah ada penginapan dan layanan wisata untuk turis. Kalau dari bandara menempuh enam sampai tujuh jam perjalanan. Tapi untuk surfer itu bukan masalah. Karena untuk mendapat ombak bagus, biasanya jalannya lebih susah,” ujar Salini sambil tertawa kecil.

Sebagai sosok yang tumbuh dan besar di Pacitan, Salini sangat akrab dengan beberapa objek wisata di sana khususnya pantai.

Salini mengenakan kebaya bersiap surfing. (Foto: Donk DIadon)
Salini mengenakan kebaya bersiap surfing. (Foto: Donk DIadon)

Ia mengatakan ada empat pantai berombak menantang yang biasanya didatangi para peselancar, beberapa di antaranya ialah Pantai Klayar, Pantai Srau, Pantai Pancer, Pantai Watukarung dan Pantai Teleng Ria.  “Bagi pemula biasanya berlatih di Pantai Teleng Ria atau Pantai Pancer. Tapi masih banyak lagi pantai yang belum dieksplorasi,” kata Salini.

Walau setiap tahunnya Pacintan disambangi oleh turis surfing dari mancanegara, namun Salini merasa peran pemerintah daerah masih belum optimal dalam mempromosikan destinasi wisata tersebut.

Selain surfing Salini juga gemar skateborading hingga panjat tebing. Hampir sama dengan surfing yang kerap menjajal lokasi baru untuk mendapat ombak idaman, Salini mengaku biasanya ia dan teman-temannya membuka jalur sendiri untuk panjat tebing.

“Aku enggak menutup kemungkinan untuk mencoba hal baru, karena aku menyukai tantangan asal tahu batas amannya. Tapi sejauh ini aku masih fokus sama surfing,” pungkasnya.