Serapan Gabah Petani Pacitan Oleh Bulog Drive XIII Ponorogo Masih Minim

oleh -1.062 views
Sejumlah pekerja memanen padi di persawahan Desa Sirnoboyo, Kebonagung, Pacitan, Jatim,( foto : berita Daerah)
Sejumlah pekerja memanen padi di persawahan Desa Sirnoboyo, Kebonagung, Pacitan, Jatim,( foto : berita Daerah)
Sejumlah pekerja memanen padi di persawahan Desa Sirnoboyo, Kebonagung, Pacitan, Jatim,( foto : berita Daerah)
Sejumlah pekerja memanen padi di persawahan Desa Sirnoboyo, Kebonagung, Pacitan, Jatim,( foto : berita Daerah)

Pacitanku.com, PACITAN– Serapan gabah petani Pacitan oleh Bulog Sub Divre XIII Ponorogo masih minim. Dari hasil produksi sebanyak hampir 9 ribu ton, yang sejauh ini mampu terserap hanya 100 ton sampai 125 ton gabah.

Padahal, target serapan gabah di Pacitan minimal 6 ribu ton. Ditengarai, kendala dalam penyerapan gabah di Pacitan adalah karena faktor budaya di masyarakat Pacitan. ‘’Kami akui serapan gabah di Pacitan memang cenderung minim. Namun, itu juga karena targetnya tidak seberapa tinggi,’’ ujar Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Pacitan, Pamuji.

Target serapan gabah di Pacitan menurut penuturan Pamuji hanya 6 ribu ton. Tidak sebanding dengan sejumlah daerah lain di sekitar Pacitan yang mencapai belasan sampai puluhan ribu ton setiap tahunnya.




Pamuji juga mengakui jika serapan gabah di Pacitan memang kurang berprestasi. ‘’Penyerapan gabah di Pacitan memang kami akui sulit. Saat ini bisa dikatakan belum sampai di atas sepuluh persen. Mudah-mudahan ada peningkatan dalam beberapa bulan ke depan,’’ sebutnya, dilansir dari Radar Madiun, Minggu (5/3/2017).

Menurut Pamuji, salah satu kendala yang dihadapi Bulog dalam menyerap gabah di Pacitan adalah faktor budaya yang mengakar di masyarakat. Dia menilai, budaya menyimpan gabah masih sangat bagus di kalangan petani Pacitan.

Di sisi lain, budaya menyimpan gabah juga tidak berarti buruk. Ketahanan pangan masyarakat Pacitan pun cenderung baik karena budaya itu masih lestari. Ketika masyarakat membutuhkan beras, maka tinggal mengambil gabah dari penyimpanan untuk kemudian digiling terlebih dahulu. ‘’Manfaatnya jelas dapat memenuhi kebutuhan konsumsi beras masyarakat. Ketahanan pangan Pacitan pun bagus,’’ jelasnya.

Sejumlah daerah yang lahan persawahannya kering sudah mulai panen sejak Januari-Februari lalu. Sementara daerah ‘’basah’’ karena guyuran hujan sepanjang tahun seperti Pacitan diperkirakan baru akan panen Maret mendatang.

Termasuk di tiga wilayah yang memiliki lahan sawah paling luas di Pacitan seperti Ngadirojo, Arjosari, dan Bandar. Harapannya, panen di bulan Maret nanti mampu menunjang serapan gabah Bulog.

‘’Karena budaya menyimpan gabah masih sangat bagus di Pacitan, kebutuhan pemenuhan beras pun tidak bergantung dengan pasokan dari luar daerah. Kecuali, jika melalui program pengadaan beras seperti rastra (beras keluarga sejahtera),’’ terangnya. (RAPP002)