Batik Pace Pacitan Masih Sulit Tembus Pasar Internasional

oleh -131.556 views
Anggunnya para model kenakan batik Pacitan. (Foto: Okezone)
Anggunnya para model kenakan batik Pacitan. (Foto: Okezone)
Anggunnya para model kenakan batik Pacitan. (Foto: Okezone)
Anggunnya para model kenakan batik Pacitan. (Foto: Okezone)

Pacitanku.com, PACITAN – Jumlah produksi kerajinan batik pace belum diimbangi pangsa pasar yang memadai. Padahal setiap tahun, produksi batik khas Pacitan tersebut terus meningkat. Selain itu banyak kendala yang dihadapi para perajin.

Saji pengusaha batik asal Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan mengatakan, kendala yang dihadapi di antaranya bahan baku masih impor. Meskipun sudah diakui UNESCO, batik masih menjadi barang yang sulit tembus ke pasar dunia.

Karena untuk mendaftarkan mereknya sangat mahal yakni mencapai Rp 50 juta per merek. ‘’Kalau penjualan di pasar lokal kadang sepi kadang ramai. Ramainya kalau hari-hari tertentu saja, semisal saat musim liburan,’’ ujarnya, kemarin (15/9).

Saji mengungkapkan, selama ini strategi pemasaran yang dilakukannya hanya sebatas mengandalkan promosi melalui media sosial serta menawarkan langsung ke calon pembeli. Selain itu, minimnya jumlah sumber daya manusia ikut mempengaruhi prospek perkembangan batik pace. Akibatnya, distribusi atau pemasaran batik khas Pacitan ke pelanggan atau pembeli terbatas. ‘’Kayak sekarang ini, saya hanya dibantu lima orang saja,’’ ungkapnya.

Meskipun pemasarannya masih menggunakan cara konvensional, namun industri batik Pace terus menunjukkan progres positif dalam sisi produksi. Hal itu terbukti dalam kurun waktu tiga tahun terakhir terjadi peningkatan produksi.

Berdasarkan data Diskoperindag Pacitan, sejak tahun 2013-2015 nilai produksi mencapai Rp 10,196 miliar. Atau rata-rata mengalami pertumbuhan sebesar 10 persen per tahun. Sekitar 80 persen produksi dilempar ke pasar dalam negeri. Sedangkan, 20 persennya menjangkau pasar manca antara lain India, Australia dan Jerman melalui agen penjualan batik di Jogjakarta dan Bali.

Kabid Perindustrian Diskoperindag Pacitan Nanang Endrajanto mengatakan, geliat industri batik tulis Pace ini setidaknya sudah terlihat dari meningkatnya jumlah produksi perajin.

Dari 13 perajin batik di Pacitan, jumlah total produksi batik tulis Pace pada 2014 lalu tercatat hanya mencapai 33.011 potong. Sementara, pada tahun 2015 dengan nilai omzet yang lebih sedikit jumlah produksinya mencapai 33.820 potong. ‘’Jadi setiap tahunnya ada peningkatan produksi,’’ ujarnya.

Diakui, masih ada kendala bagi perajin terakit pangsa pasar. Oleh sebab itu, sesekali pemkab mengajak para perajin batik lokal untuk mengikuti pameran di luar daerah. Adapun beberapa perajin batik di Pacitan tersebut menentukan pangsa pasar sendiri yang didasarkan pada jenisnya.

Sebab, proses produksinya melalui hasil olahan atau kerajinan tangan langsung (hand made) dan pewarnaannya dilakukan dengan bahan alami. Sehingga, harga satuannya juga lebih mahal. ‘’Memang batik pada umumnya, yang proses produksinya menggunakan bahan alami itu harganya mahal,’’ katanya.

Untuk itu, guna lebih mendorong produktivitas industri batik tulis Pace, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah pusat secara intensif. Caranya dengan meningkatkan pembinaan dan pengembangan batik tulis Pace melalui beberapa macam kegiatan.

Di antaranya peningkatan SDM, bantuan tenaga ahli desain, dan fasilitas akses bantuan peralatan. ‘’Kerja sama perajin dan komunitas desainer dalam upaya menciptakan aneka produk batik yang dapat berkompetisi di pasar internasional,’’ terang Nanang. (her/yup/RAPP002)

Sumber: Radar Madiun