Sempat Vakum, Tradisi Ronthek Gugah Sahur di Pacitan Kembali Dilestarikan

oleh -Dibaca 296 kali
BANGUNKAN SAHUR. Warga Ngadirojo membangunkan sahur dengan thethek bambu. (Foto: Dok)

Pacitanku.com, NGADIROJO – Pacitan memiliki salah satu seni budaya khas bernama Ronthek Gugah Sahur. Namun dikarenakan pandemi COVID-19, pada Ramadhan tahun 2020 lalu, seni budaya untuk membangunkan orang sahur saat berpuasa Ramadhan ini sempat vakum.

Pada Ramadhan tahun 2021 ini, kegiatan ronthek dengan alat musik tradisional yang disebut thetek ini kembali dilaksanakan di sejumlah kecamatan di Pacitan. Selain di wilayah Kecamatan kota, tradisi ini juga dilaksanakan di wilayah Kecamatan Ngadirojo.

Salah satunya adalah warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo yang kembali melestarikan tradisi ini seiring kelonggaran aktivitas yang diatur oleh pemerintah.

Jika di kecamatan kota disebut dengan Ronthek, di Sidomulyo warga membangunkan sahur dengan cara memainkan alat musik tradisional yang disebut thetek.

Salah satu anggota thetek, Adib, di Desa Sidomulyo, mengatakan bahwa tradisi thetek gugah sahur ini sudah berjalan sekitar dua tahun, setiap memasuki bulan suci Ramadhan.

“Kami keliling dari jam 02.00 WIB pagi setiap harinya, kami membangunkan dan mengingatkan agar para warga kususnya ibu-ibu untuk menyiapkan hidangan sahur keluarga mereka,”kata Adib, saat dikonfirmasi Sabtu (17/4/2021) lalu.

Menurut Adib, alat musik thetek yang terbuat dari Bambu, dipadu dengan alat  musik lainya seperti drum, gong, kenong, dan simbal.

Menurut Adib, banyak hal yang bisa dilakukan dalam menambah amal ibadah kususnya di bulan suci Ramadhan, salah satu contoh upayanya membangunkan warga untuk mengingatkan waktunya sahur dam imsak. Hal ini agar waga tidak bangun kesiangan yang menyebabkan tidak sahur.

Ia berharap, lewat thetek warga bisa terbantu dalam melaksanakan sahur di bulan suci Ramadhan. Meskipun berupa thetek, setidaknya mempunyai niat baik kepada warga dan tidak merugikan masyarakat. Tradisi thetek sendiri mendapatkan antusias dan respon positif dari warga setempat.

Adib mengatakan warga desa merasa sangat terbantu mengingat pentingnnya sahur dalam menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Adib berharap tradisi thetek gugah sahur nantinya agar tetap ada generasi penerusnya.

“Sehingga kami warga Desa dapat melakukan sahur tepat waktu dalam menjalankan ibadah puasa secara khusyuk,”pungkasnya.

Kontributor: Mahasiswa STKIP PGRI Pacitan
Editor: Dwi Purnawan

No More Posts Available.

No more pages to load.