Ini Penjelasan Kalak BPBD Pacitan Terkait Kondisi Cuaca Pacitan dan Fenomena La Nina

oleh -13259 views
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo. (Foto: Sulthan Salahuddin/Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN – Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan Didik Alih Wibowo menjelaskan seputar adanya perubahan kondisi cuaca di Pacitan yang cenderung mengalami perubahan, utamanya sepekan terakhir.

“Kondisi di wilayah pada saat ini di kota cenderung hujan, namun di wilayah utara mulai Tegalombo dan sekitarnya curah hujan masih sangat kurang sekali karena masih kemarau,”kata Didik Alih Wibowo, Selasa (6/10/2020) sore di Pacitan.

Salah satu penyebabnya, kata Didik, adalah adanya badai La Nina. La Nina adalah fenomena atmosfer laut gabungan yang terjadi ketika anomali suhu di perairan mencapai minus 0,5 derajat celcius.

La Nina diperkirakan akan melanda Indonesia hingga akhir tahun 2020 yang berpotensi meningkatkan curah hujan tinggi di sejumlah wilayah di Indonesia.”Ini yang terjadi di kota karena adanya La Nina ini adalah badai yang yang mengarah ke selatan,”ujar Didik.

Adapun dampak yang terjadi, imbuh Didik, adalah adanya perubahan cuaca yang begitu cepat dan terkadang ekstrim.

“Dampaknya jika kita lihat di satelite ada awan tipis sekali tapi berdampak terjadinya perubahan cuaca di wilayah Pacitan. Spotnya mengumpul dan berbeda-beda,”jelas Didik.

Menurut dia, cuaca seperti saat ini masih akan berlangsung selama kurun waktu sepekan kedepan.

“Kalau sekarang tanggal 6 (kemarin, red), maka perkiraan tanggal 13 baru selesai, himbauan kami selalu mawas diri dan memantau rilis kami yang kami rilis melalui media,”pungkasnya.

Untuk diketahui, La Nina akan menyebabkan meningkatnya curah hujan sebanyak 10 persen lebih tinggi dari biasanya pada musim penghujan. Namun demikian, La Nina ini dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah yang menjadi langganan bencana alam.

Fenomena La Nina ini ditandai dengan tekanan udara yang lebih rendah dari biasanya di Pasifik Barat. Wilayah yang termasuk dalam zona bertekanan rendah ini akan mengalami peningkatan curah hujan.

Sementara itu, berdasarkan laporan BMKG hingga akhir September 2020, anomali iklim La Nina terpantau sedang berkembang. Di Indonesia, peningkatan curah hujan akibat La Nina ini berpotensi terjadi di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera.

Pewarta: Putro Primanto
Editor: Dwi Purnawan