BPBD Pacitan Gencarkan Sosialisasi Potensi Bencana Gempabumi dan Tsunami

oleh -13240 views
Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo. (Foto: Sulthan Salahuddin/Pacitanku.com)

Pacitanku.com, PACITAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan terus melakukan langkah antisipasi terkait munculnya hasil riset dari Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan peringatan akan kemungkinannya terjadi potensi tsunami.

Terkait hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan sebagai salah satu ujung tombak Pemkab Pacitan dalam penanganan bencana, terus melakukan sosialisasi di berbagai tempat. Diantaranya Pengadilan Negeri Pacitan dan PLTU Pacitan.

BPBD Pacitan juga menggandeng PLTU Pacitan pelaksanaan Indian Ocean Wave Exercise (IOWave) 2020 yang akan dilaksanakan pada Selasa (6/10/2020) mendatang.

Selain itu, BPBD Pacitan juga membentuk Desa tangguh Bencana (Destana), FPRB, SMAB, lomba mewarnai dengan tema kebencanaan untuk anak TK/SD, sosialisasi peta evakuasi tsunami hingga pemasangan rambu serta dengan kampanye jargon 20-20-20.

“Info (Jumat) siang ini (sekarang), BPBD latihan di Pancer Dorr bersama TNI dan Polri,”kata Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo, saat dihubungi Pacitanku.com, Jumat (2/10/2020) siang.

Sebelumnya, hasil riset dari Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan peringatan akan kemungkinannya terjadi potensi tsunami.

Dalam riset tersebut, potensi Tsunami diperkirakan terjadi di sepanjang pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur.

Riset ITB juga menjelaskan tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur, dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa jika terjadi secara bersamaan.

Bupati Pacitan saat dikonfirmasi awak media pada Rabu (30/9/2020) mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan membentuk simulasi.

Indartato mengatakan, Pemkab, melalui BPBD juga untuk terus melakukan sosialisasi.

“Lha, oleh karena itulah BPBD sudah mengeluarkan (sosialisasi) 20-20-20 itu, yang pertama 20 detik pertama seandainya adai gempa bumi lebih dari 20 detik ini segera lari selama 20 menit, setelah 20 menit menuju ke tempat yang lebih tinggi 20 meter. Ini yang kita sosialisasikan kepada seluruh warga masyarakat,”jelasnya.

Selain itu, Indartato mengatakan jajarannya kembali menghidupkan kembali kampung tangguh bencana di Pacitan.

 “Yang kedua kampung tangguh kampung tangguh tetap kita laksanakan bersama dan kita hidupkan kembali, artinya kita giatkan kembali untuk mengantisipasi seandainya terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,”ujar dia.

Terakhir, Indartato juga meminta agar masyarakat tidak panik dan selalu berdoa kepada Allah SWT.

“Yang terakhir kita menjaga agar jangan panik. jangan panik ini adalah supaya kita berfikir rasional dan sekaligus bisa mengamankan diri seandainya terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Tapi kita selalu berdoa mudah-mudahan analisa (tim riset ITB) ini, hasilk ajian ini tidak terwujud dan kita selalu mohon lindungan kepada Allah SWT,”ungkapnya.

Secara khusus, Indartato juga menyebut sebanyak 25 persen warga Pacitan berada di kawasan pesisir Pantai. 25 persen warga tersebut, kata dia, terletak di 27 desa dan kelurahan di Kabupaten Pacitan.

“Dari 25 persen dari 7 kecamatan 27 desa ini sekitar 25 persen ini adalah penduduk di daerah pesisir. Karena pesisir ini adalah tempat mata pencaharian,”tandasnya.

Untuk itu, untuk mengantisipasi, salah satunya kepanikan warga, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi terkait hasil kajian tersebut.“Karena itu pemerintah adan awak media yang bekerja sama dengan rakyat dan pemerintah daerah untuk sosialisasi kaitannya dengan ilmu adanya berita tentang tsunami 20 meter,”pungkasnya.

Video Blak-Blakan BPBD Part #1: Pacitan Pernah Dilanda Gempa dan Gelombang Tinggi? Bagaimana Mitigasinya?