Pembina Yayasan Ceritakan SDIT Arrahmah Pacitan Bagai “Kapal Mengapung” Saat Banjir

oleh -131.146 views
SDIT Arrahmah saat menerima bantuan dari JIST Jatim. (Foto: JSIT Indonesia)

Pacitanku.com, PACITAN – Pembina Yayasan Arrahmah yang menaungi SDIT Arrahmad di Desa Mentoro Kecamatan Pacitan Subianto Munir menceritakan detik-detik saat bencana alam banjir pada Selasa (28/11/2017) lalu menghanyutkan semua benda yang ada di sekolah tersebut.

Hal itu diungkapkan Subi saat menerima kedatangan tim expedisi peduli kemanusiaan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Jawa Timur yang memberikan bantuan pemulihan pasca bencana untuk SDIT Arrahmah.

Sebagaimana dilansir laman JSIT Indonesia pada Sabtu (23/12/2017) yang dikisahkan Sekretaris JSIT Jawa Timur Siswandi di laman tersebut, Subi menceritakan bahwa SDIT Arrahmah Pacitan yang memiliki jumlah 500 siswa lebih ini bagaikan kapal mengapung. Karena banjir menghanyutkan semua benda benda yang ada di dalamnya seperti bangku, kursi, rapor siswa, buku-buku pelajaran dan yang ada di dalam sekolah tersebut.

“Pacitan sedang mendapatkan bongkahan emas, bencana seperti ini terakhir terjadi tahun 1965 dan baru tahun 2017 ini terjadi dengan dampak yang lebih besar dan korban nyawa lebih banyak,”katanya.

Sebagaimana diketahui, bencana alam di Pacitan sendiri telah merenggut 25 korban jiwa dan merusak 6.603 unit rumah dan 126 unit sekolah. Selain itu, bencana di Pacitan juga merusak 19,5 Kilometer jalan di 78 ruas, 21 jembatan, 832 meter jaringan air bersih. Adapun, total kerugian akibat bencana tersebut Rp 580,9 miliar.

Lebih lanjut, Subi mengungkapkan bahwa peristiwa bencana alam ini terjadi lagi setelah 52 tahun berlalu.

“Apa yang terjadi selama waktu tersebut? Ada apa dengan Pacitan? Warganya perlu bertafakur ini ujian atau azab-Nya. Dan sebaik-baik tafakur adalah segera kembali kepadaNya. Agar Allah selalu menjaganya,”jelasnya.

Dia mengatakan bahwa tiga hari sebelum bencana hujan deras berturut turut menyelimuti Pacitan, menurut warga sekitar detik sebelum bencana ada jeritan keras di atas bukit tanda alam lagi menampakkan wajahnya.

“Sekedar perlu di ketahui ada tradisi di Pacitan selama dua tahun terakhir dibudayakan, yang sepanjang sejarah pacitan belum pernah ada yaitu tradisi larung dan sepanjang pantai terdapat tempat-tempat penginapan. Wallahu a’alam, apakah ini peringatan atau ujiannya,”ungkapnya.

Dalam kesempatan kunjungan ke SDIT Arrahmah tersebut, JSIT Jawa Timur menggalang aksi kemanusiaan bencana Pacitan dan menyalurkan bantuan Rp 60 juta, berupa dana dan barang kebutuhan pendidikan prioritas khusus siswa, guru dan warga sekitar SDIT Arrahmah.

“JSIT pada tahap kedua juga akan menyalurkan berupa bantuan pendidikan dan terapi healing,”kata Siswandi Sekretaris JSIT Jatim. (JSIT/RAPP002)

Sumber/Foto: JSIT Indonesia