Viral Nenek 100 Tahun Bertemu dengan Anaknya Setelah Pisah 35 Tahun

oleh -678 views

Pacitanku.com, WONOGIRI – Satu rumah joglo di Desa Puloharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah mendadak riuh rendah saat seorang nenek yang diketahui memiliki anak bernama Paidi tersebut tiba-tiba pulang ke rumahnya.

 “Anakku jik urip…,” begitu teriak nenek bernama Tukiyah, itu sambil memeluk seorang laki-laki berkemeja putih kotak-kotak, seperti dikutip Pacitanku.com dari laman facebook Uzkub Muzamil.

Terlihat dalam video tersebut, nenek berkebaya hijau itu mengulang kalimat dalam bahasa Jawa, yang artinya “Ya Ampun…Anakku masih hidup.” Ia terus memeluk pria tersebut sambil menangis. si pria pun tampak terharu dan menangis sambil memeluk nenek tersebut.

Tentu saja hal tersebut menjadi momen mengharukan, dimana seorang nenek yang usianya lebih kurang 100 tahun bertemu dengan anaknya. Anak itu bernama, Paidi.

Karena diketahui, dia ternyata tak pernah pulang ke kampung halamannya setelah merantau sejak 1982. Artinya setelah 35 tahun, Paidi baru bertemu kembali dengan ibunya.

Diketahui, Uzkub Muzammil merupakan seorang mubaligh yang juga berwiraswasta. Sepulang dari mengisi cermah di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ia berencana membuka kebun jengkol di tanah seluas 5 hektare yang dimilikinya di Bengkulu.

Awalnya, Uzkub Muzammil tengah bercakap-cakap dengan seluruh pekerjanya termasuk Paidi. Ia lantas menanyakan latar belakang Paidi. Paidi menjawab ia berasal dari Wonogiri. Selama 35 tahun, Paidi bertahan hidup dengan bekerja serabutan di Bengkulu.

Muzammil yang baru pulang dari Jawa Tengah kemudian bertanya kapan terakhir Paidi pulang kampung. Jawaban Paidi membuat terkejut. Ia mengaku belum pernah pulang sejak menginjakkan kaki di Bengkulu pada tahun 1980-an. Saat itu, usia Paidi baru berusia 16 tahun.

Kala itu, kata Muzammil, Paidi pergi meninggalkan rumah dengan niat ikut bekerja dengan tetangganya yang bertransmigrasi ke Bengkulu. Namun, Paidi justru terpisah dengan tetangganya setelah beberapa bulan bekerja bersama di Bengkulu.

Lantaran buta huruf, Paidi tak memiliki akses untuk menghubungi sanak saudara di Wonogiri. Selama 3,5 tahun terakhir, Paidi tinggal di sebuah gubuk yang dikeliling dinding terpal di wilayah Bengkulu Utara. Muzammil menanyakan, lantas bagaimana kabar ibu dan keluarga di Wonogiri? Paidi mengaku belum pernah berbicara dengan ibunya selama 35 tahun meninggalkan rumah.





Momen tersebut terekam dalam video berdurasi 1 menit 33 detik yang diunggah akun facebook Uskub Muzamil.

Menurut cerita Uskub Muzamil yang memposting video tersebut. Awal pertemuannya dengan Paidi saat ia membutuhkan seorang tenaga kerja guna membuat pagar di kebun miliknya.

Singkat cerita, bertemulah Uzkub dengan si pekerja yang bernama Paidi itu. Ia ternyata belum pernah pulang sejak merantau 1982. Pria asal desa Puloharjo Kecamatan Eromoko, Wonogiri, Jawa Tengah itu menceritakan kalau dirinya ikut tetangga merantau.

Dengan bantuan teman Uzkub dari Pacitan, dimulailah perburuan keluarga pak Paidi. Hanya dalam waktu tiga hari, keluarga pak Paidi ditemukan. Bahkan kabar gembiranya, ibu pak Paidi yang usianya lebih kurang 100 tahun masih sehat dan menunggu anaknya pulang.

Hingga akhirnya pada Selasa (5/9/2017) lalu, rombongan mengantarkan pak Paidi pulang ke desanya. Cerita lengkap kisah mengharukan tersebut kemudian di posting Uskub di akun facebooknya.

Berikut kisahnya:

Kemaren waktu ke jawa dakwah di bln agustus , Saya butuh tenaga kerja untuk ke kebun , saya nyuruh temen di bengkulu nyarikan tenaga kerja tuk bikin pagar kebun. Sepulangnya saya dr acara dakwah di pacitan dll , pergilah aku menuju kebun melihat pekerja ku yg baru yg blm pernah aku jumpai ini. Dan di sana aku tanya namanya pak paidi,asli wono giri,dan sudah sejak tahun 81 dia merantau ikut tetangganya org wonogiri.dan ketika kutanya sudak brp kali plg ke wono giri dia jawab blm pernah,dan ketika ku tanya gmn kbr ibu nya,betapa kagetnya saya dia bilang tidak tau,bahkan ibunya hidup atau matipun dia tidak tau. Seketika itu juga aku kaget dan bergeming dalam hati,seandainya ibu nya masih ada dan sehat betapa rindu dan berharap untuk bertemu dgn pak paidi ini.

Akhirnya seketika itu aku tanya sama pak paidi alamat rumah nya ,dan pak paidi menyebutkan desa puloharjo kec eromako wonogori dan data keluarga. Bermodalkan ini,hari itu aku menelpon pak mamad jamaah majlis rosho pacitan yg memiliki percetakan dan persewaan tenda panggung yg kita gunakan panggungnya waktu milad ke 9 majlis rhoso. Saya mintak tolong kpd pak mamad untuk mencarikan secepat nya alamat keluarganya pak paidi di eromoko . Alkhamdulilah dalam waktu tiga hari keluarga pak paidi sudah di temukan dan saya pun di tlp oleh pihak kluarga dan betapa senangnya dan haru ketika kluarganya saya tanya klu beliau ibundanya pak paidi yg usianya udah mencapai -+ 100 tahun ini msh sehat dan selalu berdoa mintak usia panjang sebelum meninggalnya mintak di temukan dgn paidi ank nya.

Kemudian saya berusaha vidio caal pihak kluarganya pak paidi dan pak paidi ,saat itu pak paidi matanya berkaca kaca menatap wajah ibundanya yg dia sendiri tidak menyangka ibundanya masih ada. Begitupun ibundanya ketika itu menangis tersedu sedu histeris seakan tak percaya klu ank nya masih ada, karna selama ini dengan SDM nya pak paidi yg kurang tak bisa tulis baca sehingga dgn kondisi sebatangkara di bengkulu gak ada ngasih kabar ,sebaliknya pihak kluarga tak kurang kurang ikhtiar tanya kpd tetangganya yg dulu di ikutin merantaupun tak tau entah kmn perginya pak paidi bujang tanggung di tahun 1982 .

Walhasil tepat tgl 5 -9 2017 saya bersama pak paidi terbang dari bandara fatmawati bengkulu menuju bandara adisumarmo solo dengan niat mempertemukan pak paidi dengan keluarganya.

begitu cerpen nyata ini semoga manfaat….